A Copy Of My Mind : Jakarta dan Sudut Hitamnya

Novel dengan cover wajah cool dari Chiko Jericho ini sangat luar biasa keren. Tidak seperti novel kebanyakan, novel ini mengambil sudut lain dari kota megapolitan Jakarta. Bukan dunia malamnya, tapi  aktivitas dunia pembajakan film-film dari dalam dan luar indonesia.

“Kamu percaya enggak kalau takdir pertemuan itu memang seperti itu sifatnya?”

“Kita diminta mengumpulkan banyak-banyak pengalaman hidup, untuk jadi prasyarat bertemu dengan orang-orang paling penting di hidup kita.” halaman 114

Sari, perempuan yang sangat sederhana. Karena keterbatasan biaya, ia mau tidak mau tinggal di indekos yang sumpek. Ia bekerja di salon kecantikan yang sehari-harinya melakukan therapist. Mayoritas pelanggannya adalah ibu-ibu, yang mencari hiburan untuk melepaskan penat karena lelah mengurus rumah tangga dan pusing dengan ocehan para suaminya. Sari yang merantau dari desa memiliki cita-cita yang sederhana, yakni memiliki home theater untuk melengkapi hobinya menonton film.

Alex, seorang anak muda yang hidup bebas di Jakarta. Bekerja sebagai penulis subtitle DVD bajakan dengan bermodalkan aplikasi terjemahan. Kini Alex hidup dengan dunia yang bebas, tanpa kartu identas, tanpa telepon genggam dan hobi  taruhan dalam ajang balap liar.

Pertemuan mereka dimulai dari kekesalan Sari yang membeli DVD bajakan dengan subtitle yang buruk, aksi protesnya itu membuat ia bertemu dengan sang penulis subtitle. Sari datang ke rumah Alex untuk melihat koleksi film yang bahkan belum rilis dipasaran.

Konflik dimulai saat pindahnya Sari ke salon yang lebih modern, dengan perlengkapan mesin yang cukup memadai dan level pengunjung yang berbeda. Sari yang masih dalam masa training diberi tugas untuk memberikan pelayanan kepada tahanan di lapas wanita.

Bukan tahanan biasa, tahanan negara ini bisa ”membeli” ruang tahanan dan dibuat senyaman mungkin dengan keinginannya.  Sofa, TV, pendingin ruangan, hingga memiliki kamar mandi sendiri dan tidak bergabung dengan tahanan lain. Setelah memberikan pelayanan kepada Bu Mirna (tahanan negara kasus jual beli undang-undang), Sari yang gemar menonton film melihat beberapa deretan koleksi film, lalu Ia mencuri satu keping DVD yang memiliki genre film yang disukai.

Kejutan memang tak lepas dari novel ini, kejutan itu datang dari sudut yang tak pernah diambil oleh sutradara lain dalam membuat plot cerita. Dan saya memberikan applause lebih kepada Joko Anwar yang dengan berani membuat karya yang antimainstream.

Keping DVD yang dicuri oleh Sari ternyata rekaman Bu Mirna saat melakukan transaksi jual beli undang-undang dengan beberapa pengusaha. Percakapan yang menggunakan istilah “apel” ini kembali mengingatkan saya kepada kasus mega korupsi di Indonesis tentang wisma atlet yang membuat negara rugi besar. Joko Anwar seakan hendak menyindir dengan memasukkan unsur itu kedalam filmnya. Anehnya, yang menyebutkan kata “apel” sama-sama perempuan.

Akibat dari tindakan pencurian yang dilakukan Sari, nama Alex pun ikut terseret sebagai tersangka. Alex yang mengenal beberapa tokoh yang pernah hidup dijalur itu meminta Sari untuk tidak berada jauh dari rumah dan tidak kembali lagi ke tempat kerja. Alex tertangkap oleh suruhan bu Mirna saat hendak mengambil beberapa perlengkapan Sari di indekos yang lama. Alex menolak untuk menyebutkan lokasi Sari berada dan rela menerima pukulan bahkan kematian untuk tetap melihat kekasihnya tersebut tetap menjalani kehidupan dan menggapai cita-citanya.

Akhir tragis yang di tampilkan dalam novel ini memang berbeda dengan yang lain, dan itulah yang memacu saya untuk menyarankan Anda membaca novel yang luar biasa dahsyatnya.

“Hidup yang tidak disyukuri adalah hidup yang tidak dihidupi. —halaman 38

Komentar

Penyuka karya Dewi Lestari dan berhasrat ingin bertemu sang Supernova

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *