“Cinta pandangan pertama” kepada komunitas baca tangerang

Mengalami jatuh cinta pada pandangan pertama itu bisa membuat hati kita muncul perasaan aneh di dalam diri dan membuat jantung terasa tidak karuan. Momen itu, bisa didapat saat bertemu seseorang maupun bertemu dengan hal-hal yang membuat kita merasa nyaman ataupun takjub. Sampai-sampai kalian akan selalu dibuat terbayang oleh momen pertama kali bertemu. Kalau kata pujangga cinta, dari mata turun kehati

Hal itulah yang saya rasakan ketika pertama kali bertemu dengan komunitas baca tangerang, tepatnya dalam acara Car Free Day (CFD) yang berlokasi di Tugu Adipura Kota Tangerang. Kaya cinta lokasi, lur. Tugu adipura menjadi saksi pertemuan antara saya dan komunitas baca tangerang. Mungkin suatu waktu saya harus membuat gembok cinta di sekitaran pagar Tugu Adipura, supaya perasaan ini terus terawat.

Sebenarnya,  saya termasuk tipikal orang yang malas membaca buku. Mungkin buku terakhir yang saya baca adalah “ Kiat-kiat menghadapi UN SMA”. Itu pun terpaksa karena ingin terlihat serius di depan orang tua. Saya juga sadar, bahwa ketika UN tidak bisa mengandalkan teman atau menghamburkan uang untuk kunci jawaban yang belum pasti benar. Baru membaca buku sekitar dua halaman saja rasanya kepala saya kunang-kunang, mata kedutan, pori-pori membesar, pokoknya enggak betah deh. Entahlah, sampai hari ini saya tidak percaya bahwa yang katanya buku adalah jendela dunia.

Hingga saat sekitar 1 bulan yang lalu, ketika acara car free day (CFD) berlangsung di sekitar Tugu Adipura, perhatian saya tertuju kepada sekelompok anak-anak muda seperti sedang menggelar dagangan buku. Ketika saya perhatikan lagi dengan seksama, ternyata itu adalah gelaran membaca buku gratis. Hal yang paling membuat hati saya tersentuh ialah ketika melihat anak-anak kecil banyak yang berkunjung untuk membaca buku yang disajikan. Ada yang datang sendiri, ada juga yang diajak oleh orang tuanya. Di gelaran buku tersebut tersedia buku-buku untuk anak kecil seperti majalah bobo, komik, buku cerita legenda dan lain sebagainya. Terdapat pula buku bagi kalangan remaja dan orang dewasa, seperti novel-novel percintaan, buku sejarah dan masih banyak lagi.

Dikerumunan anak-anak yang sedang membaca, saya juga melihat orang-orang tua duduk sambil membaca buku. Disitu saya merasa malu sebagai anak muda, ternyata semangat membaca buku saya kalah dari mereka. Umur bukan suatu penghalang untuk membaca buku. Ketika sebelumnya saya percaya yang katanya minat membaca warga Indonesia rendah, anggapan itu seketika hilang saat melihat hal tersebut.

Karena rasa penasaran saya semakin menggunung, saya hampiri tempat tersebut. Ternyata, yang mengadakan kegiatan lapak baca buku gratis ini berasal dari Komunitas Baca Tangerang. Sekelompok muda-mudi yang berasal dari penjuru Tangerang manapun, yang peduli akan minat membaca khususnya di daerah Tangerang.

Wah, ternyata masih ada orang-orang yang peduli seperti mereka.

Akhirnya saya ikut nimbrung dengan mereka dan ingin membaca buku. Namun saya bingung buku apakah yang harus saya baca. Akhirnya, saya disarankan untuk membaca buku “Merasa Pintar, Bodoh Saja TakPunya”. Dari judulnya sudah menarik perhatian saya. Sampai pada akhirnya, tanpa sadar saya dibuat larut dalam membaca buku tersebut. Baru kali itu saya serius dalam membaca sebuah buku. Mungkin karena tulisannya yang mudah dicerna dan alurnya menarik. Dari situlah akhirnya minat membaca saya mulai bangkit.

Anggapan bahwa buku adalah jendela dunia, itu memang benar. Tinggal kita lah yang mencari, seperti apa jendela dunia kita. Ketika ada orang yang senang membaca buku sejarah, filsafat, atau novel, itulah jendela dunia mereka, dan mungkin jendela dunia yang saya punya berasal dari buku-buku ringan seperti yang tadi saya baca.

Kegiatan gelaran buku gratis pada hari Minggu pagi itulah yang membuat saya jatuh cinta pada Komunitas Baca Tangerang. Dimana segala hal negatif dalam pikiran saya terhadap minat membaca warga Indonesia mulai terkikis perlahan. Ternyata masih ada orang-orang yang mempunyai semangat membaca khususnya di Tangerang, dan masih ada orang-orang yang peduli dan ingin memperbaiki anggapan bahwa sebenarnya minat membaca warga Tangerang memanglah tinggi.

“The more that you read, the more things you will know” —Seuss.

Komentar

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *