Cerita Bumi Tahun 2683: Keberlangsungan Hidup, Perjuangan Bangsa Burung Dan Kekejaman Manusia

“Pada 2017, 15,8 juta hektar area hutan atau kurang lebih seluas negara Bangladesh hilang. Itu berarti, hutan seluas 40 kali lapangan bola hilang setiap menitnya.” (kumparan.com 28/6/18)

Lalu bagaimana kondisi bumi di tahun 2683?

Senin, tahun 2683, Hutan kedua terakhir di wilayah Afrika telah musnah. Lahannya dijadikan rumah bordil dan taman budaya seksual dengan luas hampir 50 hektar. Tidak ada yang mampu menghalangi kejadian itu. Agama hanya jadi sesuatu hal yang rapuh dan berkarat. Bahkan bumi sendiri tidak mampu berbuat apa-apa, meski menjaga atau mencegah barang satu pohon sekalipun.

“Bumi sedang kesakitan. Tanah hijau berubah menjadi cokelat dan gersang dibakar api yang semena-mena. Di atasnya peradaban baru tengah di mulai.” –Blurb–.

Dengan habisnya seluruh pepohonan, burung-burung yang ada sekarang jumlahnya tidak lebih dari 500 spesies—bermigrasi ke hutan Kalimantan. Hutan Kalimantan adalah hutan terakhir.

“Mari kita bangun hutan kita sendiri!” Teriak si Pembawa Kabar, seekor burung pemimpin, membangunkan semangat burung-burung lainnya bahwa kehidupan yang baru sudah di depan mata.

Tapi tidak dengan Burbur, seekor burung Kusumba yang terkenal sebagai burung ilmuan. Kusumba merupakan spesies burung terhebat dalam bangsa burung. Tidak ada yang lebih berdedikasi dan peduli terhadap makhluk hidup lain selain Burbur. Jika Pembawa Kabar kehilangannya, maka hilang segala harapan dan rencana yang sudah diusung sebelumnya.

Suatu hari, Pembawa Kabar hampir menangis karena tidak menemukan cara untuk menghibur sahabatnya itu. Meski demikian, si Pembawa kabar tetap tegar menjalani dan harus terus berjalan untuk memimpin, berpindah dari satu hutan ke hutan lainnya demi membangun peradaban baru.

“Sendirian atau mati ternyata hanya berbeda tipis, seperti gila dan jenius. Ada harapan atau tidak ada harapan, nyatanya kau masih bisa hidup sampai sekarang.” Hal 15.

Saat bangsa burung sedang sibuk mengangkat kayu-kayu. Tak disangka, seekor jenis burung Albatros menampakan diri di hadapan mereka semua, termasuk di hadapan Burbur. Albatros merupakan jenis burung terkuat di muka bumi dan burung legendaris dalam kitab suci bangsa burung yang dikabarkan telah punah. Albatros itu bernama Rindang.

Rindang datang sekaligus membawa kabar angin segar untuk turut membantu dan alhasil semua bangsa burung menyambutnya dengan penuh suka cita. Lantas, Burbur—Pembawa Kabar beserta kawanan bangsa burung lainnya jadi kian semangat. Baru beberapa hari api semangat mereka berkobar, tak disangka, angin segar itu berhembus menjadi angin pilu. Rindang tertembak tepat di kedua matanya oleh manusia. Serangan itu begitu tiba-tiba. Burbur dan Pembawa Kabar menyaksikan dengan mata kepalanya. Peluru itu tepat menghatam mata Rindang. Tembus tanpa ampun.

Hal itu dapat terjadi atas ulah manusia yang dengan sengaja bermaskud memusnahkan hutan beserta isinya. Sungguh luar biasa kejam, tak ada ampun, tak ada yang boleh menghalangi meski sekalipun itu makhluk ciptaan Tuhan yang tinggal di bumi bersama dengan nya.


Aesna membawa “Cerita Bumi Tahun 2683” dengan pembawaan yang deskriptif. Beberapa adegan bisa tergambar dengan mudah diimajinasi kita. Sebab, kalimat demi kalimat cukup detail ia tuliskan. Seperti kekacauan kondisi bumi, manusia yang memakai semacam baju pelindung seperti astronot untuk bernapas, tidak ada lagi jalanan karena kendaraan digantikan oleh teknologi semacam piring terbang, dan banyak gambaran-gambaran lainnya yang mudah kita tangkap dari Aesna.

Nah, bagian yang saya suka dalam buku ini ada di prolog. Dalam prolog diterangkan, “Aku” di sini adalah Bumi. Bumi menyampaikan keluh kesahnya, menceritkan kondisinya yang sudah bobrok. Bumi sedang menangis, menjerit penuh luka. Dan ada satu kalimat yang membuat saya membatin,

“Aku sudah tua untuk lebih banyak berkata-kata mengenai apa yang terjadi pada diriku sendiri selama beratus-ratus tahun belakangan ini. Kesia-siaanku dan ketidakmampuanku berbicara di level lebih tinggi membuatku tidak lebih baik dari pengecut dan terkadang aku bertanya, Tuhan, untuk apa aku tercipta?”

Di sisi lain, nilai yang dapat dipetik dalam buku ini dijelaskan bahwa untuk mendapatkan kehidupan serta semangat yang baru, tak lepas dari adanya peranan orang-orang di sekitar kita. Terutama orang-orang terdekat, seperti tokoh si Pembawa Kabar. Karena hidup memang harus tetap dihidupi. Keberlangsungan hidup akan terus berjalan dengan segala kondisinya.

Secara tersirat, sentilan Aesna begitu terasa untuk kita sadari betapa sudah tua bumi yang kita tempati ini. Mengingat kondisi bumi kita saat ini, marak sekali terjadi penebangan hutan yang dilakukan oleh perusahaan-perusahaan, dan ditukar dengan kebun sawit. Padahal sawit dan industrinya mempunyai dampak yang kurang baik kepada lingkungan. Sementara, di hutan belantara sana ada makhluk hidup lainnya yang bertahan hidup karena rumahnya semakin sempit.

Kita juga mestinya sadar untuk terus menjaga kelestarian alam. Jika kita tidak mampu untuk menjaga kelestarian hutan. Ya, minimal menanam barang satu pohon di halaman rumah sudah cukup berharga. Sebab, menanam lebih baik daripada terus menebang.

 

 

 

Judul Buku: Cerita Bumi Tahun 2683

Penulis: Aesna

Penerbit: Buku Mojok

Cetakan Pertama: Oktober 2018

Tebal: vi + 96 halaman

Dimensi: 14 x 21cm

ISBN 978-602-1318-75-1

 

 

Komentar
Allan Maullana

Suka terbangun pada pukul 04:12am

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *