Budi Sabarudin: Dongeng Sebagai Gerakan Literasi

Dunia literasi sering dipahami sebagai hal yang berat dan rumit untuk dipahami. Tak ayal membuat sebagian orang enggan untuk mendekati apalagi memahaminya. Padahal kita sering bersentuhan dengan literasi. Sederhananya, literasi kan memiliki dua unsur yang sering dijumpai masyarakat: membaca dan menulis.

Salah satu cara untuk menebar virus membaca dan menulis kepada anak-anak khususnya, ialah dengan mendongeng, yaitu mendengarkan kisah sederhana baik itu berberntuk fiksi ataupun kisah nyata. Biasanya, cerita yang diawakan untuk mendongen berasal dari buku cerita. Hal ini bertujuan agar anak-anak tertarik untuk membaca. Seperti yang ada di Kampung Dongeng misalnya, gerakan yang dibawa oleh Kak Awam ini bertujuan agar anak-anak dapat memiliki memori indah semasa kecil.

Di Tangerang sendiri ada seseorang seperti Kak Awam di Kampung Dongeng. Dia adalah Budi Sabarudin yang tinggal di Taman Royal, Cipondoh, Kota Tangerang. Pria yang akrab disapa Kang Euy ini berlatarbelakang sebagai wartawan senior yang kerap berlalu lalang menjadikannya ingin melakukan hal baru untuk dunia literasi. Sasarannya adalah anak-anak.

Berawal dari gerakkan Motor Literasi (MoLi), Kang Euy menguatkan niatnya untuk menebarkan virus literasi dengan mendongeng. Sehingga tak heran bila gerakan literasi lewat mendongeng ini terus dilakukan olehnya sampai sekarang.

Kang Euy memberitahukan bahwa karirnya sebagai pendongeng tidaklah gampang. Untuk menjadi pendongeng, butuh niat dan ketulusan hati, berpasrah pada Tuhan Yang Maha Esa bahwa semua yang telah dilakukan semata demi meraih jalan yang benar. Dihitung-hitung, perjalanan mulia beliau sudah hampir satu dekade.

Kang Euy mendongeng ke sekolah-sekolah, panti asuhan, pesantren, hingga ke kampung-kampung. Bukan hanya mendongeng, Ia tak lupa menanamkan nilai-nilai islami kepada pendengar. Semisal, dalam sela-sela dongengnya, ada penyampaian untuk mengingatkan kembali lewat seruan adzan bahwa umat muslim diperintahkan untuk menunaikan ibadah solat.

Pesan moral yang dibawakan Kang Euy dalam dongengnya sering diangkat dari kehidupan sehari-hari. Lalu, setelah mendongeng anak-anak biasanya dinasehati untuk selalu sayang kepada kedua orangtua, berlaku adil dan tidak boleh berbuat jahat.

Di setiap sesi wawancara, kang Budi selalu merasa senang, sebab suguhannya selalu dibanjiri banyak apresiasi, ada yang bilang bahwa penampilannya menarik dan berbeda dari pendongeng yang lain, ada pula yang bilang bahwa Kang Euy ini dari segi pementasan amat terasa full of feel, penuh penghayatan dan totalitas. Hal ini memberi suntikan segar kepada beliau agar terus semakin semangat dalam menyemai benih-benih literasi.

Di selesai pementasannya, guna mengundang banyak ketertarikan, Ia suka membagikan buku gratis dengan syarat mampu menjawab pertanyaan seputar dongeng yang telah dibawakan sebelumnya. Ya, ini menjadi modal awal untuk setiap anak agar terus menyukai dunia dongeng.

Sepak terjang Kang Euy sudah banyak melahap berbagai daerah di nusantara, yang kerap mengadakan roadshow keliling kota. Yang baru-baru ini Ia  sedang mengadakan Roadshow di 7 Kota bertemakan sedekah dongeng keliling nusantara. Beberapa daerah yang disinggahinya memiliki animo berbeda namun rata-rata yang hadir nampak sangat senang karena Kang Euy membawakan dongeng-dongeng dengan kisah inspiratif.

Tak hanya kelihaiannya dalam mendongeng, Kang Euy kerap menulis di websitenya, bangeuy.com. Bahkan, tulisannya juga sering dimuat di situs kenamaann lain.

Literasi sangatlah penting pada kehidupan kita, sebagai kunci sukses menjadi manusia yang berpengetahuan dan berperadaban. Dengan kegiatan mendongeng, anak-anak diharapkan menjadi lebih dekat dengan dunia literasi. Kang Euy telah membukakan mata kita bahwa kita harus peduli literasi walaupun jaman sudah berkembang.

Komentar

Benci feodal namun juga bukan patriotik

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *