Book Snob: Manusia Paling Jago

“Jangan menilai buku hanya dari sampulnya.” Tapi kenapa para Book snob mengkotak-kotakan bacaan berdasarkan genre?

Snob adalah istilah untuk orang yang suka menghina dan meremehkan orang lain. Mereka memandang seseorang lebih rendah darinya. Seakan merasa lebih pintar dari pada orang lain.

Sedangkan Book snob adalah orang-orang yang hanya pamer buku atau bacaan. ‘Book Snob cenderung mengkotak-kotakan buku bacaan. Menganggap seseorang yang tidak membaca sastra atau filsafat, belum bisa dikatakan sebagai pecinta buku. Merendahkan orang yang memiliki selera berbeda.

Saya termasuk pembaca semua genre. Tidak membatasi diri untuk membaca hanya satu genre, apalagi hanya dari satu penulis. Karena bagi saya tiap buku memiliki keunikannya, dan tiap menulis punya ciri khas masing-masing.

Belakangan ini saya sedang menyukai buku-buku berbau feminis, dan orang-orang akan menganggap buku yang saya baca sangat keren. Lalu mereka bertanya, “Buku apa yang pertama kali saya baca dan akhirnya membuat saya jatuh cinta dalam dunia literasi?” saya menjawab “Buku pertama yang saya baca adalah novel Habiburrahman El Shirazy – Bidadari Bermata Bening.”

Wajah mereka berubah seolah merasa aneh, karena saya membaca novel tersebut. Mereka seolah tidak percaya dengan kembali mempertanyakan kebenaran dari jawaban saya. Memangnya apa yang salah dari sebuah novel? Saya mendapat banyak pembelajaran dari setiap novel yang saya baca.

Katanya “Jangan menilai buku hanya dari sampulnya.” Tapi kenapa para Book Snob mengkotak-kotakan bacaan berdasarkan genre. Bukankah membaca itu baik? Dari pada menghina bacaan orang dan tidak memulai untuk membaca.

BACA JUGA : Memperingati Hari Buku Anak Sedunia

Beberapa kawan saya yang tidak tahu kalau saya juga pencinta novel suka mengejek mereka yang membaca novel. Bahkan seorang kawan yang menyukai buku-buku filsafat berkata; bahwa membaca novel hanya membuang waktu dan omong kosong belakang, tidak menambah pengetahuan, tidak bisa diajak diskusi.

Halah, Aristoteles saja tak akan mengeluarkan pernyataan seperti itu. Seakan dalam otak penuh sekali dengan gudang keilmuan. Mungkin mereka belum membaca novel “Memoar Perempuan di Titik Nol” atau “Tuhan Izinkan Aku Menjadi Pelacur”. Novel-novel yang mempunyai nilai tersendiri dan tidak sebatas omong kosong.

Lagi pula untuk urusan pola pikir siapa yang tau? Membaca berguna untuk mengetahui suatu hal tertentu. Kalau seakan-akan tau segalanya, memangnya sudah membaca buku di seluruh penjuru dunia?

Wah, kenapa saya terdengar seperti Book Snob yaa huhu. Yaa maksud saya, coba dulu baru menilai. Jangan langsung memukul rata begitu saja. Tidak ada buku yang tidak ada isinya. Atau hanya sekadar omong kosong. Yang jelas omong kosong adalah “Dia yang pergi saat lagi sayang-sayangnya,” lho kok curhat.

Yang menyebalkan dari Book snob, beberapa judul buku hanya untuk dipamerkan, “Eh, gua lagi baca buku ini keren bukunya.” Tapi tidak pernah sampai habis membacanya, alasannya; buku itu terlalu berat untuk cepat dihabiskan.

“Lha wong buku berat kok dihabiskan. Ya ditaruh saja mas, bisa pegal-pegal nantinya.”

Tapi sebenarnya Book Snob memiliki sisi positif. Sebab seseorang bisa saja terpacu untuk lebih semangat membaca dan mengenal lebih banyak penulis. Dan bagian negatifnya seseorang bisa jadi malas atau berhenti membaca karena merasa diremehkan atau sakit hati dengan ucapan para Book Snob.

BACA JUGA: Nostalgia Bersama Es Goyang; Jajanan Legendaris Yang Masih Eksis Di Tangerang

“Wahai para Book Snob, mungkin tujuan kalian baik, tapi caranya kurang tepat. Coba diperhalus sedikit, sambil ngopi mungkin lebih asik.”

Komentar

Manusia yang belum jadi manusia.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *