Bisakah Kita Menentukan Ideologi Dari Bacaan?

Jangan menilai buku dari sampulnya, sebuah pepatah yang kiranya cocok untuk orang yang gemar menilai ideologi seseorang dari bacaannya. Ibarat kata, menilai ideologi dari buku yang dibaca itu sama saja seperti menilai ideologi seseorang dari jargon politisi. Tidak bisa dipercaya dan sulit ditebak.

Bagi saya, ideologi tidak bisa ditentukan dari bacaan. Apalagi jika orang tersebut betul-betul gemar membaca, bisa jadi hampir semua buku Ia lahap demi memuaskan kebutuhannya akan pengetahuan. Lagipula, apa gunanya sih menentukan ideologi seseorang dari bacaannya?

Kebiasaan macam begini biasanya dimiliki oleh orang yang masih hidup di lingkungan mahasiswa. Karena memegang atau membawa buku Catatan Seorang Demonstran, seseorang dianggap memiliki prinsip kerakyataan, atau setidaknya dianggap aktivis. Padahal, dulu ada teman saya yang kupu-kupu (kuliah pulang kuliah pulang) membaca buku itu hanya karena habis nonton film Gie.

Baca juga :  Menyoal Pandemi Covid-19: Indonesia Bisa Baca, Tapi Tidak Mengerti Apa Yang Dibaca!

Meski memang perlu kita akui, kebiasaan seperti ini, kebiasaan menilai orang ini bukan hanya dimiliki oleh mahasiwa. Mengingat masyarakat kita memang gemar menilai orang dari sampulnya, dari penampilannya. Perempuan merokok dianggap nakal, tak bermoral. Padahal Susi Pudjiastuti masih menjadi salah satu Menteri yang kinerjanya paling baik ketimbang menteri bermoral lainnya.

Seperti sudah saya jelaskan di atas, menilai seseorang dari bacaannya ini ya sebelas-dua belas sama menilai politisi dari jargonnya. Anies Urbaningrum dan politisi Partai Demokrat boleh menggunakan jargon tolak korupsi. Toh pada akhirnya mereka masuk bui karena ditanggak Komisi Pemberantasan Korupsi pula.

Atau, yang paling terkini, ketika Presiden Joko Widodo mempersilakan masyarakat memberikan kritik terhadapnya. Toh pada akhirnya aparat menindak orang yang mengkritik Jokowi juga, seperti banyak kasus mural di Kota Tangerang. Memang sudah betul apa kata Bilven Sandalista, semua yang diucapkan atau dijanjikan jokowi, tinggal dilihat sebaliknya.

Kembali ke soal buku, sebenarnya ya bisa saja sih seseorang dinilai ideologinya dari buku apa yang mereka baca. Hanya saja, hal ini tidak berlaku mutlak dan tidak bisa digeneralisasi. Ini bisa berlaku pada orang tertentu, tapi tidak pada orang yang lain. Karena, apa ideologi yang bisa kita lihat dari orang yang hanya membaca komik manga?

Pada kasus lain, sebagai mantan pimpinan Nahdlatul Ulama, KH Abdurrahman Wahid disebut juga membaca karya dari Mao Zedong, orang yang disebut sebagai Bapak dari Gerakan Komunis di Cina. Ia membaca buku itu untuk menggali pemikiran kiri yang kerap diposisikan berlawanan dengan agama. Meski begitu, tentu kita tidak bisa menyebut Gus Dur berideologi komunis, kan?

Karena itu saya kira, kita tidak pernah benar-benar bisa menilai ideologi seseorang dari bacaannya, apalagi sekadar dari buku yang mereka bawa. Saya masih ingat betul bagaimana Anas Urbaningrum membawa buku Merdeka 100% dari Tan Malaka ke KPK ketika Ia dipenjara karena kasus korupsi. Sudahlah Ia korupsi, bukan orang kiri, masa bisa kita sebut berideologi komunis karena membaca buku itu? Tidak mungkin kan.

Punya kebiasaan mengeneralisir semua hal itu gak baik. Bukan hanya dalam kasus ini saja, namun di segala aspek pun demikian. Memangnya masyarakat tidak sadar bahwa kita hidup di tengah keberagaman. Mau baca novel romance, baca komik manga, atau baca buku-buku Tan Malaka sekalipun itu hak kalian dan orang lain tidak berhak menilai ideologi kalian hanya dari buku yang kallian baca.

Apapun perlu dibaca, karena membaca adalah perlawanan paling sederhana  untuk memerangi kebodohan dan pembodohan.

BACA JUGA : Tentang Pungli Dan Hilangnya Nurani Di Masa Pandemi

Komentar

Bukan siapa-siapa, bukan apa-apa

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *