Bersikap Bodoamat: Mengubah Masalah Menjadi Masalah Lebih Baik

Pada suatu sore yang bahagia, saya pinjam buku dari seorang pemuda mapan kaya raya yang hidup dalam kesederhanaan dan keceriaannya. Buku yang berjudul “Sebuah Seni Untuk Bersikap Bodo Amat” ini saya pinjam karena dua hal. Pertama, karena saya terpantik oleh beberapa kawan yang kerap menunggah foto buku tersebut di akun media sosialnya. Kedua, karena saya suka dengan judul yang terkesan nyeleneh dan nampak agak menarik. Untuk itu saya tergiur untuk segera membaca buku ini.

Bagi saya, buku ini cukup berani dan frontal. Jarang sekali saya membaca buku bergenre self-improvement dengan kata-kata yang cukup kasar dan blak-blakkan seperti ini.

Buku ini benar-benar menabrak konsep dari buku self-improvement pada umumnya, dimana berisikan kalimat-kalimat motivasi, mencerahkan pikiran dan memberi daya semangat untuk lebih bersikap lebih baik lagi.

Sebaliknya, buku ini justru lebih menggambarkan pada suatu realita nyata yang kerap terjadi di sekitar hidup kita. Suatu kenyataan dimana kita terlalu banyak memikirkan hal-hal yang sesungguhnya tidak mesti untuk dipikirkan. Baiknya, fokus pada apa yang memang benar-benar perlu kita pikirkan saja.

Buku ini tidak berbicara bagaimana cara meringankan masalah atau rasa sakit. Bukan juga panduan untuk mencapai sesuatu. Namun, sebaliknya buku ini akan mengubah rasa sakit menjadi kekuatan, dan mengubah masalah menjadi masalah yang lebih baik. Khususnya, buku ini akan mengajari untuk peduli lebih sedikit. — Mark Manson

Maksud bersikap bodoamat di dalam buku ini bukan berarti kita menjadi acuh tak acuh dengan segala hal yang ada di dunia. Bukan juga berarti kita bisa bertindak seenak jidat atau berprilaku sembarangan semaunya.

Apabila ada yang beranggapan seperti itu pada buku ini, dapat saya garis bawahi bahwa seseorang itu belum tuntas membaca buku ini dan mungkin hal parahnya adalah ketika selesai membaca, isi dan maksud yang tersirat tidak ia tangkap secara benar.

Bersikap bodoamat, artinya berhenti memikirkan kesulitan atau kekhawatiran yang tidak penting. Contohnya, semisal kita melihat teman sering berlibur, sedangkan kita terus-menerus bekerja bagai kuda sedang lembur. Setelah itu, kita menjadi bersedih atau kesal dengan kehidupan yang dijalani. Sebenarnya, hal tersebut sangatlah tidak penting. Jadi, untuk apa dipikirkan kalau hanya membuat diri kesal dan bersedih? Nah itu yang dimakud buku ini dengan kata “bodo amat”.

Dari kebanyakan buku-buku self-improvement yang saya selama ini baca. Buku ini sungguh nampak berbeda. Sebab, memiliki pendekatan yang tidak biasa, dengan melekatkan sisi rasional dan menguatkan pola pikir untuk lebih mencermati keadaaan secara tajam. Dengan membaca buku ini, kita belajar untuk menjadi apa adanya. Mengajak untuk lebih berdamai dengan diri sendiri.

Untuk kamu yang mudah stres, buku ini sangat direkomendasikan. Tapi, saya tidak merekomendasikan untuk membaca buku ini apabila kamu adalah tipikal orang yang mudah tersinggung. Khawatirnya, tidak tersulut dan malah berdampak besar akan amarahmu. Karena memang gaya bahasa di dalam buku ini begitu frontal dan vulgar. Akan tetapi, itu yang membuat buku ini terasa natural dan banyak disukai.

Penasaran untuk baca buku gila ini? Terserah mau dijawab atau enggak, suka atau tidak suka. Intinya Bodo Amat!

Komentar
Arianto Darma Putra

Gua kece dari lahir, ya beginilah sudah takdir

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *