Berliterasi Dengan Edi Bonetski

“Literasi bukan hanya tentang membaca dan menulis, literasi bisa kita pandang sebagai dari segala hal dalam hidup. Minyak gorengan yang terserap di kertas dan membentuk sebuah estetik juga bisa disebut sebagai literasi”

Begitulah ungkap Edi Bonetski yang menggambarkan tentang literasi. Kenapa beliau ungkap seperti itu? Oke, untuk kita kenal lebih lanjut dengan beliau bagaimana berbicara literasi dan lain hal nya, yuk kita menyelami lebih dalam di tulisan ini.

Sebagian masyarakat, kiranya awam jika tau nama Herdy Aswarudi. Namun jika sudah disapa dengan nama Edi Bonetski, orang–orang mungkin akan tau bahwa beliau adalah sosok pelakon seni yang sangat terkenal di deretan pegiat seni jalanan lainnya.

Meski kelihatannya garang dan berpenampilan eksentrik. Pria yang murah senyum dan tawa ini punya segudang pengalaman dan sangat bertalenta di banyak hal. Untuk urusan kesenian, tak usah diragukan lagi, beliau sudah sangat hatam. Setidaknya sudah banyak karya seni yang tercipta baik fisik maupun non-fisik. Kurang lebih 70 lagu diciptakan oleh beliau, bukti fisik secara visual juga banyak. hasil karyanya dipamerkan di galeri workshop miliknya di daerah Rempoa, Tangerang Selatan

Kesibukannya sekarang ini, mengajar ke berbagai tempat seperti sekolah-sekolah dan mengisi acara. Di sela-sela pertemuan saya dengan Bang Edi, ia sempat mengoreksi sebuah acara kesenian yang akan terbentuk. Memang, ada saja ide-ide menarik dari beliau yang keluar. Yang tak disangka, ketika orang berpikiran A ditepisnya oleh beliau dengan pendapat B bahkan hingga Z, yang barang tentu ada benarnya juga. Misal, tidak perlu menggunakan caption bahasa Inggris, lebih baik pakai kata-kata asoy (bahasa sehari-hari) atau kata-kata daerah, yang terpenting enak didengar dan mengundang daya tarik massa.

Upaya yang didapati ini berlanjut hingga ke arah gerak sosial. Hingga mampu mendirikan Rumah belajar anak langit. Sedikit gambarannya bahwa rumah belajar tersebut adalah tempat berkumpulnya anak-anak jalanan yang tidak mendapat pendidkan formal di bangku selokah. Disitu anak-anak dibebaskan untuk mengasah keterampilan dan kreatifitas yang diinginkan.

Kebanyakan masyarakat kenal jika rumah belajar sebagai sarana pendidikan harus terampil di bidang akademik. Namun tidak untuk Rumah Belajar Anak Langit, pendidikan yang berbasis Kurikulum dan Silabus tidak berguna, tidak masuk ke dalam muatan lokal belajar di Rumah Anak Langit.  Tempat ini lebih mengedepankan asas berbagi, bermain, dan curhat. Kata Bang Edi, jika anak-anak awalnya kenal dengan hitung-menghitung (pertambahan) disini anak sudah melewati fase itu dan lebih fokusnya belajar ke pembagian, dimana jikalau kita berprinsip membagi semua bakal sama rata sama rasa.

Lantas, apa bisa kita amini bahwa pernyataan Bang Edi itu benar? Bisa dibilang benar, jika kaitannya dengan literasi. Sebab, berbicara tentang literasi pun, sama seperti yang Bang Edi awal bilang tentang baca dan tulis, realisme sosial yang lazim terdengung di telinga. Literasi adalah upaya kita untuk mengetahui dan sadar akan keadaan sekitar.

“Literasi adalah sejarah paling purba di muka bumi” Ucap Bang Edi. Dari konsepsi pembentukan bumi, dikatakannya jika Tuhan melahirkan semesta alam dengan literasi, berliterasi. Turun secara horizontal ataupun vertikal. Membaca pandangan tersebut juga merupakan sebuah bentuk literasi.

Bang Edi membuka mata kita akan zaman dahulu dengan literasi, entah dua sisi, yang mana yang ingin dipegang, yakni di zaman purba atau zaman nabi, mereka semua berliterasi. Dari yang mulanya manusia purba di zaman praaksara yang baru kenal bentuk goresan-goresan hingga ke bentuk gambar. Dan di zaman nabi, terutama Kanjeng nabi Muhammad berinteraksi dengan Allah dan di wahyukan oleh malaikat Zibril untuk melafadzkan Iqra (baca). Semua itu adalah tentang literasi.

Adapun tentang literasi dan huruf, huruf yang sejak kecil kita kenal, dilafalkan maupun dihafalkan disambung oleh Bang Edi yang mengungkapkan kekagumannya di literasi yang terdapat pada huruf-huruf. Menurutnya cukup sederhana saja, sebab huruf adalah makhluk hidup, apalagi jika dirangkai dan menjadi makna. Itu akan lebih hidup mendapat sentuhan banyak ruh-ruh (huruf).

Terakhir, Kita doakan saja semoga Bang Edi segera menelurkan buku pertamanya. Sehingga kita kenal bagaimana sejauh ini Bang Edi menapaki karir dan menyikapi segala macam hal yang ada dalam hidupnya dengan asyik. Tidak, yang asyik itu Kata Bang Edi korupsi bareng-bareng. Bukan juga dengan menjadi hero, imbangi saja dulu dengan Hore.

Margohban!

Komentar

Benci feodal namun juga bukan patriotik

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *