mengaji

Memahami Konsep Berliterasi Dalam Mengaji

Mengaji adalah untuk memahami lalu kemudian mengamalkannya.

Ramadhan adalah bulan dimana seluruh umat muslim di penjuru dunia melakukan ibadah puasa—menahan segala macam bentuk godaan dan hawa nafsu. Namun berpuasa bukan menjadi penghalang kita untuk melakukan kegiatan. Ada banyak kegiatan positif yang bisa dilakukan untuk mengisi luang waktu kita—apalagi jikalau melakukan kegiatan yang bermanfaat untuk orang lain—pahala jadi ganjaran yang sudah dijanjikan Allah SWT.

Rutinitas yang sering kita lakukan biasanya adalah mengatur jadwal buka bersama. Yap, undangan buka bersama jadi hal yang sering kita jumpa, mulai dari teman: SD, SMP, SMA, maupun teman tongkrongan. Atau biasanya kita mengisi waktu untuk menunggu berbuka dengan kegiatan ngabuburit. Itu semua bukan menjadi persoalan selagi masih hal yang positif.

Namun, di sisi lain nampaknya kita lupa bahwa literasi dalam kegiatan keagamaan sebetulnya ada di bulan ramadhan ini. Allah tidak semata-mata mengajak kita untuk berpuasa saja, tapi jauh di dalamnya kita semua perlu tahu bahwa ada sisi manfaat untuk diri kita sendiri—kita dilatih untuk menjadi lebih baik dibanding bulan-bulan sebelumnya.

Kegiatan tersebut adalah mengaji. Ya, mengaji atau membaca Al-Quran termasuk ke dalam kegiatan berliterasi. Untuk urusan menambah pahala dalam mengaji, sepertinya kita semua tentu tak perlu mengkompromikan lagi—kita semua sudah dijanjikan hal itu oleh Allah SWT.

Sebagian orang mengisi bulan ramadhan dengan membaca Al-Quran dengan target dapat mengkhatamkannya dalam sebulan. Dengan mengaji barang satu atau dua juz seusai solat 5 waktu. Atau selepas solat tarawih maupun di waktu tengah malam seusai solat tahajud.

Konsep mengaji sebenarnya hampir serupa dengan berliterasi, yaitu tidak harus dulu bisa menuliskan kembali ayat yang telah dibaca, melainkan iqra atau bacalah, kemudian pahami atau tangkap makna yang tersirat di dalamnya. Perintah membaca juga telah disebutkan dalam Al-Quran surat Al-Alaq—membaca dulu, baru menulis dengan pena. Membaca dalam islam memang sangat dianjuran oleh Rasulullah SAW. Karena itu, Al-Quran jadi faktor penting dalam dunia literasi maupun perkembangan zaman.

Baca juga: Literasi Al-Quran Bisa Dimulai Dari Membaca Dan Mengartikan

Sayangnya, negara Indonesia yang mayoritas beragam islam berada dalam ketertinggalan dalam urusan mengaji maupun membaca Al-Quran. Berdasarkan data Perguruan Tinggi Ilmu Alquran (PTIQ) Jakarta, sekitar 60-70 persen umat islam di Indonesia tidak bisa membaca Al-Quran. Ditambah dengan keadaan sekarang yang mulai pudarnya kebiasaan anak-anak di waktu maghrib untuk mengaji. Selepas solat maghrib, anak-anak kembali pada rutinitas masing-masing, ada yang kembali menyalakkan ponselnya atau mengunci rapat-rapat kamarnya. Karena memang tak bisa ditampik juga bahwa kemajuan teknologi menyeret masyarakat memilih sibuk pada gadget. Hal ini menjadi persoalan serius, mengingat kemajuan bangsa berpacu pada kemajuan masyarakatnya.

Meski gerakan mengaji di tiap-tiap sekolah telah digalakkan, tentu upaya tersebut hanya sekadar rangka mendukung pemenuhan program pemerintah belaka—menginginkan masyarakat yang madani dan religius. Upaya dari beberapa yang peduli dengan minat baca seperti pegiat literasi taman baca pun sudah memasukkan konsep mengaji agar anak-anak terus dapat berliterasi keagamaan.

Baca juga : Keramas Merang: Tradisi Menyambut Bulan Suci Ramadhan

Supaya dua komponen ini terus dapat berjalan baik dan selaras dengan keinginan pemerintah, kita sebagai warga yang mulai terbuka pola pandang tentang mengaji, haruslah turut berperan aktif membangun budaya berliterasi dengan cara memberitahukan konsep dalam mengaji.

Sebab diukur dari segi manfaatnya, selain sang anak dapat memahami nilai yang terkandung di dalam Al-Quran dengan mengaji, segi karakter, unsur kecerdasan serta akhlak seiring waktu pun akan terbentuk.

Maka dari itu, selagi di momen bulan ramadhan ini. Kita perlu banyak mengimbau kepada sesama bahwa mengaji adalah bagian penting untuk memajukan literasi. Membangun kedekatan dengan kecintaan nilai Al-Quran agar terus bisa mewarnai kehidupan kita semua.

Komentar

Benci feodal namun juga bukan patriotik

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *