Berharap Kaya Dengan Menulis Buku

Berharap Kaya Dengan Menulis Buku

Seorang penulis buku itu rata-rata royaltinya adalah sebesar 10% dari harga jual buku. Di beberapa penerbit jumlahnya bisa lebih kecil atau lebih besar, tapi rata-rata segitu. Jadi, jika harga sebuah buku adalah 50 ribu, maka setiap kali buku itu laku satu eksemplar, si penulis akan mendapatkan jatah royalti 5 ribu rupiah.

Nah, jika jatah penulis hanya 10%, yang 90% ke mana? Yang 90% nyebar ke penerbit, distributor, sampai toko buku. Produksi buku biasanya 20%, biaya edit, proof, ilustrasi, dsb. biasanya 5-10%, buat penerbit biasanya hanya 10-15%, distributor 20%, biaya promosi dan operasional anggap saja 10%, dan sisanya yang sekitar 30% itu buat toko buku. Jadi sebenarnya, kalau pengin kaya itu jangan jadi penulis, tapi buka toko buku saja.

Intinya begini, jangan pernah berharap kaya dari menulis. Sungguh itu pengharapan yang menurut saya salah besar.

Saya sudah menulis empat buku, dan empat tiga buku itu, saya mendapat royalti lumayan (untuk tidak menyebutnya sedikit). Kendati demikian, saya tak pernah merasa kaya dari royalti buku saya, sebab pada kenyataannya, saya mendapatkan uang lebih banyak justru bukan lewat royalti buku.

Bagi saya, mengharapkan uang royalti sebagai sumber penghasilan adalah hal yang punya potensi menyakitkan hati. Bisa saja royaltimu besar melebih gaji kerja PNS selama setahun, tapi jauh lebih besar kemungkinannya royaltimu hanya setara gaji buruh bangunan selama seminggu. Royalti buku adalah sebuah ketidakpastian.

Memang, ada banyak penulis yang terbukti sukses secara finansial karena menulis, misalnya Raditya Dika, Tere Liye, atau Andrea Hirata. Mereka sukses dan mendapat banyak materi dari royalti buku yang mereka tulis.

Tapi, tentu saja harus dipahami, bahwa dibalik tawa bahagia Andrea Hirata, Tere Liye, atau Raditya Dika karena kesuksesan mereka mendapatkan uang yang tak sedikit dari royalti buku, ada duka ribuan penulis lain yang meringis karena royalti buku mereka hanya senilai puluhan atau ratusan ribu rupiah saja (itu pun sering telat pembayarannya). Kenapa? Ya karena buku-buku mereka kalah laris dibanding buku-bukunya Raditya Dika.

Persaingan buku itu bukan main liarnya. Ada banyak buku-buku yang bagusnya ngaudubillah setan, tapi lakunya cuma sak-uplik. Sebaliknya, ada buku-buku yang isinya tak lebih bagus dari LKS Geografi, tapi larisnya kayak pocky.

Selain liar, persaingan buku juga tidak masuk akal. Sekarang muncul buku “30 Hari Mahir Bahasa Inggris”, minggu depan sudah muncul buku “2 Hari Mahir Bahasa Inggris”, minggu depannya lagi bisa muncul buku “5 Menit Mahir Bahasa Inggris”, dan minggu depannya lagi bisa muncul buku “Mahir Bahasa Inggris Tanpa Baca Buku”.

Hal-hal tersebut kemudian membuat sebuah buku semakin sukar diprediksi laku atau tidaknya. Terlebih jika penulisnya masih ecek-ecek dan tidak punya follower banyak.

Maka, hal yang paling tidak memberatkan hati tentu saja adalah menjadikan jalan menulis buku sebagai hobi dan pembahagia diri, jangan menjadikannya sebagai jalan utama untuk mencari uang.

Kalau memang ndilalah kita nanti bisa kaya dari menulis buku, ya itu bonus. Sekali lagi, yang terpenting adalah jangan pernah berharap kaya dari menulis buku. Satu-satunya cara yang mungkin bisa membuat kaya dari menulis buku adalah menulis buku yang dijadikan sebagai mas kawin saat menikahi anak tunggal yang bapaknya konglomerat.

Komentar
Agus Mulyadi

Im Blogger, and Graphic Designer. Need my service? Just call my name

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *