Berawal Dari Tujuh Belasan, Berakhir Dengan Lahirnya Gerobak Baca

Ketika Bangsa Indonesia disebut sebagai salah satu yang terendah dalam urusan minat baca, banyak orang yang menolak tuduhan tersebut. Meski pada kenyataannya, bagian dari generasi hari ini lebih senang menatap layer gawai ketimbang membaca buku. Mereka lebih bayak membalas pesan temannya ketimbang melakukan aktivitas yang menambah ilmu. Karenanya, semakin banyak para pembantah tuduhan tadi yang terlibat langsung dalam upaya meningkatkan minat baca masyarakat.

Seperti yang dilakukan masyarakat di Dukuh Gilingan Lor Desa Urutsewu Kabupaten Boyolali. Melihat rendahnya minat baca masyarakat, sebagian dari mereka membuat inovasi untuk menumbuhkan ketertarikan orang terhadap buku. Untuk menunjang hal ini, mereka menjadikan sebuah gerobak yang biasanya dipakai berjualan mie ayam atau bakso menjadi sebuah perpustakaan berjalan. Di atas gerobak inilah, mereka meletakkan buku-buku untuk dibaca masyarakat.

Semua bermula tatkala perayaan Hari Kemerdekaan Republik Indonesia pada Agustus yang lalu. Di sela lomba-lomba klasik macam balap karung, makan kerupuk, tarik tambang, atau panjat pinang, Desa Urutseru juga mengadakan lomba menghias kampung. Dengan semangat membuat sesuatu yang berbeda dari desa lain, para pemuda dan tokoh masyarakat Dukuh Gilingan Lor pun sepakat membuat gerobak buku dorong bagi warganya. Hal ini bertujuan untuk mengajak masyarakat gemar membaca buku.

Tak disangka, gerobak yang dimodifikasi dan dihias ini menyorot perhatian warganya. Mereka sangat antusias dengan keberadaan gerobak buku dorong ini. Setiap sore hari, gerobak ini berkeliling kampung menemui setiap warganya yang sudah menunggu kedatangan gerobak baca tersebut. Setelah berkeliling, biasanya gerobak baca mangkal disudut desa. Banyak para warga yang menghampiri. Mereka tidak sabar untuk meminjam buku yang tersedia. Gerobak baca ini sudah memiliki koleksi buku 200 judul, yang bukunya didapat dari sumbangan masyarakat. Mereka sedang mencoba untuk menambah koleksi bukunya. Pengelolaan gerobak baca ini diserahkan kepada pengurus karang taruna di desa tersebut. Sungguh sangat kreatif anak muda saat ini.

Gerobak baca ini selalu ramai dikunjungi oleh pembacanya. Mulai dari anak-anak, remaja, orang dewasa, bahkan sampai ada yang sudah usia senja. Mereka mengaku sangat senang dan bangga melihat anak-anak muda di Dukuh Gilingan Lor Desa Urutsewu memiliki kegiatan yang bermakna. Biasanya pada sore hari masyarakat hanya duduk manis di depan TV atau sibuk dengan urusannya masing-masing. Kini, dengan adanya gerobak baca, mereka dapat berkumpul bersama warga lainnya sambil membaca buku-buku yang disediakan.

Mereka membaca buku yang sesuai dengan hasrat masing-masing. Anak-anak membaca cerita bergambar, para remaja membaca novel-novel romansa, dan yang dewasa membaca buku tentang berkaitan dengan bisnis, masakan, pertanian, ataupun peternakan.

Melihat keberhasilan Gerobak Baca ini, tidak percuma kegelisahan sebagian warga terhadap minimnya minat baca dilampiaskan dalam lomba di tujuh belasan. Tanpa mengandalkan bantuan pemerintah ataupun menunggu sumber bantuan yang lain, mereka masih bisa membangun satu hal berguna bagi warga dusunnya. Hanya bermodal keinginan dan kreativitas, mereka mampu menjadikan sebuah gerobak biasa menjadi luar biasa. Hanya berawal dari sebuah lomba yang biasa, kreativitas dan kegelisahanlah yang menjadikannya begitu bermakna.

Komentar

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *