Bendungan Pasar Baru: Sang Pengendali Air Cisadane

Bendungan Pasar Baru atau biasa di sebut bendungan Pintu Air Sepuluh terletak di jalan K.S Tubun, Kelurahan Koang Jaya, Kecamatan Karawaci, Kota Tangerang.

Bendungan yang dibangun pada tahun 1927 dan mulai berfungsi pada tahun 1932 di masa penjajahan Belanda. Tujuannya, bendungan ini menjadi pusat pengaturan dijit air di Tangerang. Proses pembangunannya membutuhkan banyak orang sampai mendatangkan para pekerja yang berasal dari daerah Cirebon, karena pada saat itu memang sedang ada proyek lain di kota Tangerang.

Ada lima buah mesin yang masing-masing menggerakan dua buah pintu air berkekuatan 6000 Watt. Konstruksi bangunan yang terbuat dari beton bertulang ini memiliki 10 pintu air dari 11 tiang sebagai penopang.

Dibangunnya bendungan ini di maksudkan untuk pengairan sawah-sawah yang luasnya hampir mencapai 1.500 H, dan  mengatur dijit air agar tidak terjadi bencana banjir jika masuk musim penghujan. Bendungan yang melintang di jalur sungai Cisadane yang memiliki hulu di Gunung Pangrango dan Gunung Salak Boor dan berakhir di laut Jawa.

Selain berfungi untuk pengairan sawah dan meminimalisir bencana banjir. Ada hal menarik lain dari bendungan ini. Dengan lebar sungai yang luas, banyak warga sekitar memanfaatkan sungai untuk memancing dan menjaring ikan. Bahkan disaat situasi sedang surut, banyak anak kecil bermain di sekitar bendungan bahkan berenang di sungai dengan memainkan batang pohon pisang untuk dihanyutkan dan dinaiki beramai-ramai.

Sampai sekarang, perubahan pada bendungan ini tidak terlalu banyak, hanya saja peralatan dan mesinnya yang memang sudah termakan usia. Setiap bangunan yang dibangun di masa kolonial Belanda selalu menyuguhkan hal-hal yang tak jauh dari sifat mistis. Hal itu pun terjadi pada bendungan ini, sebagian masyarakat menilai bahwa bendungan ini memiliki sifat itu, terlihat dari banyaknya kejadian yang menyangkut tentang peristiwa-peristiwa  mengenaskan.

Pernah ada peristiwa tentang hanyutnya seseorang di sungai Cisadane dan mayatnya ditemukan di sekitar bendungan, warga banyak yang menyimpulkan bahwa bendungan tua itu memiliki penunggu yang tak terlihat. Namun hal itu bukanlah menjadi dasar yang kuat untuk kita mengasumsikan bahwa bendungan itu terlihat menyeramkan dan mistis. Karena memang fungsinya sebagai pengatur dijit air, dan membentang di jalur sungai Cisadane, maka tak heran bukan, jika sesuatu yang hanyut akan terbawa menuju bendungan itu.

Terlepas dari sisi mistis itu, bendungan ini bisa menjadi alternatif lain sebagai objek wisata sejarah Tangerang. Dengan posisinya yang terletak di tengah-tengah kota dan menjadi jalur utama bagi masyarakat kota Tangerang menuju bandara Soekarno-Hatta, tempat ini menjadi alternatif lain bagi masyarakat kota Tangerang untuk mengisi waktu luang dengan gemericik air dan sorotan matahari senja, menjadi paduan yang sangat indah dimata.

Komentar
Dhani Arief Wicaksono

Benci feodal namun juga bukan patriotik

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *