Benarkah Senjakala Media Cetak Akan Menjadi Lonceng Kematian Dunia Literasi?

Sempat saya merasa ada anggapan bahwa di zaman yang makin canggih justru akan membuat manusia menjadi tertinggal adalah semacam paradoks bagi umat manusia. Namun, apa yang saya anggap sebagai paradoks itu justru makin jelas terjadi, dan nyata menjadi ancaman. Perkembangan zaman memang membawa banyak perubahan, terutama membuat banyak hal menjadi lebih efisien. Segala hal menjadi lebih cepat, mudah, tapi  juga sulit dikendalikan.

Kini kita bisa berkomunikasi dengan seseorang yang jaraknya ribuan kilometer, menempuh tempat yang jauh dengan waktu yang relatif cepat, dan mampu menemukan informasi dengan begitu cepat. Mungkin memang membuat kehidupan menjadi seakan lebih mudah. Meski hal ini kemudian dianggap menjadi ancaman bagi satu medium informasi yang telah lama kita miliki, yakni media cetak

Baca Juga:  Cantiknya Sunset Situ Cipondoh

Perkembangan media digital memang semakin menggerus keberadaan media cetak seperti koran. Boleh saja dulu koran atau majalah menjadi primadona bagi para pemburu informasi. Namun kini, sepertinya media cetak telah masuk ke masa senjanya. Atau malah, sudah terancam punah.

Memang, jika kita melihat sejarah panjang media cetak, kita bakal mengingat betapa besarnya peran medium ini bagi perkembangan hidup masyarakat. Mulai dari tahun 1455 ketika baru mediumnya masih menggunakan daun ataupun tanah liat, hingga kemudian berkembang ke masa percetakan. Itu pun melalui masa penggunaan mesin tik untuk produksi dan gambar-gambarnya masih menggunakan pena.

Baca Juga:  Lelaki Harimau: Wujud Dari Segala Bentuk Ketidak Manusiaan

Perkembangan media cetak mengalami kemajuan yang amat signifikan pada setelah periode tahun 1960an. Penggunaan komputer telah membantu kehidupan berliterasi masyarakat. Proses produksi media cetak pun semakin mudah. Barulah kemudian di tahun 1990an, ketika teknologi kian berkembang, televisi dan radio ikut mempermudah masyarakat dalam memperoleh informasi. Dan posisi media cetak mulai tersampingkan, walau masih punya posisi tawar yang baik di hadapan masyarakat.

Hingga kemudian di kisararan tahun 2010, ketika ponsel yang sebelumnya hanya menjadi alat komunikasi telah menjadi semakin pintar dan mampu memberikan informasi dengan lebih cepat dengan bantuan internet. Ya, masa-masa inilah yang kemudian menjadi titik nadir kehidupan media cetak.

Kini dirasa media cetak mulai kehilangan eksistensinya di hadapan masyarakat. Menurut data Nielsen Consumer & Media View, pembaca media cetak pada tahun 2017 ada di angka 4,5 juta orang. Angka tersebut merosot dari jumlah 9,5 juta pada 5 tahun sebelumnya, yakni di tahun 2012. Ditambah lagi, setidaknya ada 10 media yang berhenti terbit di periode tersebut seperti Bola, Hai, Gaul, dan Fortune.

Dengan segala kondisi tersebut, benarkah pandangan para pakar jika media cetak bakal memasuki babak akhir kehidupannya? Dan apakah kematian media cetak bakal menjadi sebuah lonceng kiamat bagi dunia literasi? Entahlah, hanya waktu yang bisa menjawab.

Komentar

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *