Benarkah Kereta Bandara Membawa Manfaat bagi Warga Tangerang?

Saya adalah orang yang amat membenci pembangunan kereta bandara Soekarno Hatta. Jika kita hanya menilai secara normatif, memang kehadiran kereta bandara ini membuat akses menuju Soetta menjadi lebih mudah. Terbukanya akses bakal membuat orang-orang yang menggunakan bandara ini menjadi lebih senang atas pelayanan pengelolanya.

Tapi tunggu dulu, kemudahan tadi jelas bukan buat warga Kota Tangerang. Rumah tempat saya tinggal hanya berjarak 11km dari bandara. Dengan jarak sedekat itu, tentu perjalanan ke bandara harusnya lebih mudah. Namun pembangunan kereta bandara itu telah merenggut segala kemudahan akses untuk datang ke Soetta bagi saya, warga Kota Tangerang yang harusnya menikmati kemudahan karena tinggal tak jauh dari bandara.

Memang sebagai dampak pembangunan tadi, warga Tangerang yang mau ke Soetta harus repot-repot dulu berkeliling bandara. Sebelum ada pembangunan, saya cuma perlu waktu 20 menit untuk sampai ke bandara. Namun kini, saya harus menikmati perjalanan setidaknya 1 jam karena pintu M 1 bandara yang jadi akses termudah untuk kami telah ditutup karena pembangunan.

Kini kami perlu melewati dua jalur yang memutari bandara. Jika pintu M 1, maka kita harus memutari bandara lewat jalan parimeter yang kerap memakan korban. Di jalan ini memang sering terjadi kecelakaan. Jalannya sempit, kendaraan melaju kencang, dan penerangan di jalan ini minim. Terakhir, seorang kawan saya harus kehilangan satu jari kakinya setelah mengalami kecelakaan di jalur maut ini.

Jika kita mau menghindari jalur maut tersebut, saya harus memutar lebih jauh lagi ke Kebon Besar sebelum akhirnya masuk melalui jalan dari arah Tol bandara. Persoalan melalui jalur ini, ya kita cuma harus jauh-jauh ke Kebon Besar dulu sebelum bisa memasuki area bandara.

Mungkin pembangunan kereta bandara ini bakal berdampak positif bagi perekonomian. Ya setidaknya perekonomian para pebisnis dan daerah itu sendiri. Tapi bagi saya, warga Tangerang, pembangunan ini justru amat merugikan. Karena saya harus buang waktu lebih banyak untuk tiba di bandara yang, harusnya kepleset saja sampai.

Memang warga Tangerang bisa memanfaatkan kehadiran kereta bandara ini untuk menuju bandara. Betul sekali. Tapi perlu Anda tahu kalau tiket perjalanan kereta bandara sebesar Rp 100 ribu. Angka yang tidak kecil buat sebagian besar orang karena harga tersebut setidaknya senilai 1/5 harga tiket pesawat menuju Jogja.

Sialnya lagi, kehadiran kereta bandara ini kabarnya bakal mengurangi jumlah perjalanan KRL yang melintasi jalur Tangerang-Duri. Bajingan betul. Sudah kalau mau ke Soetta harus memutar jauh, lah ini kita mau beraktivitas sehari-hari saja harus terhambat karena keberadaan kereta bandara. Apalagi saya juga pengguna aktif KRL yang hampir setiap hari memakai jasa transportasi ini. Jika kemudian perjalanan KRL menuju Duri harus berkurang, bagaimana nasib kami para warga Tangerang?

Kalau sudah begini, pembangunan kereta bandara benar-benar hanya merugikan saya dan sebagian warga Kota Tangerang saja. Jika memang pembangunan itu diniatkan untuk menyejahterakan dan memudahkan kehidupan warga, kenapa pembangunan ini justru membuat kami merugi dan terganggu? Atau memang, semua pembangunan yang dimaksudkan pemerintah itu hanya merugikan kehidupan rakyatnya saja?

Komentar

Bukan siapa-siapa, bukan apa-apa

One Comment

  1. Derris Reply

    Bener sih, sepertinya pembangunan kereta bandara ini melewatkan pertimbangan untung-rugi buat warga tangerang. Padahal, (klo ga salah) bandara Soetta secara lokasi, juga terletak di Tangerang.

    Semoga bisa ditinjau lagi nih kedepannya supaya warga Tangerang jg bisa dapet manfaatnya, bukan cuma warga dari arah Jakarta aja..

    Mungkin dengan menurunkan harga kereta bandara dari stasiun Batu Ceper bisa jadi salah satu alternatif..

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *