Benarkah Image Perempuan Berpendidikan Disegani Para Lelaki?

Pendidikan merupakan hal yang termasuk ke dalam hak asasi manusia. Artinya, setiap orang berhak mendapatkan pendidikan setinggi-tingginya. Dalam konteks ini pendidikan pun tak lagi memandang gender maupun status sosial. Termasuk juga yang berhak didapatkan oleh perempuan. Namun tahukah kalian terkadang ada istilah mengenai perempuan yang berpendidikan tinggi disegani para lelaki?

Saya yakin bahwa banyak dari kalian yang mungkin sudah pernah melihat di sebuah meme atau lelucon yang bilang bahwa semakin tingginya tingkat pendidikan perempuan, semakin segan pula para lelaki untuk mendekatinya. Bahkan ada yang bilang kalau para lelaki bisa jadi takut atau jiper lah.

Tidak semenyeramkan itu lho perempuan di mata lelaki. Saya kasih bukti dari sebuah penelitian yang dilakukan di Australia, hasilnya menunjukkan bahwa lelaki lebih bahagia menikahi perempuan yang memiliki pendidikan tinggi. Lebih dari 5000 lelaki mengatakan bahwa mereka bahagia menikahi perempuan yang berpendidikan.

Artinya bahwa perempuan yang berpendidikan tinggi tentu akan bisa membantu suami dalam kehidupan berumah tangga. Mulai dari menerapkan gaya hidup sehat, membantu mencari penghasilan tambahan karena peluang mendapatkan pekerjaan lebih besar, hingga mampu mendidik anak dengan baik.

Baca Juga : Tips Mendapatkan Buku Secara Gratis Maupun Dengan Harga Murah

Sejatinya pun kita tau karena Ibu adalah sekolah pertama bagi anaknya. Itu benar, ibu lah yang mengajari anaknya sebelum dia memasuki usia yang cukup untuk masuk ke pendidikan formal. Bukankah itu bisa dilakukan dengan mudah jika sang ibu memiliki jenjang pendidikan yang bagus?

Tapi, jika seandainya seorang perempuan yang telah menempuh pendidikan tinggi lebih memilih untuk menjadi ibu rumah tangga, itu juga bukan suatu hal yang salah. Walau memang terkadang kerap menyebalkan, stigma sebagian besar masyarakat kita sampai saat ini seringkali menyematakan gelar perempuan pendidikan tinggi wajib dipakai agar bisa mendapatkan karir yang bagus.

Banyak juga psikolog yang mengatakan bahwa keretakan rumah tangga bukan disebakan karena faktor pendidikan istri yang lebih tinggi dari suaminya. Konflik yang ada dalam hubungan itu, ya karena memang berasal dari personality masing-masing pihak, bukan karena ijazah terakhir.

Sejauh ini, saya juga telah banyak mengenal pasangan suami istri yang dimana sang istri memiliki jenjang pendidikan lebih tinggi dari suaminya. Teman saya memiliki gelar master sedangkan suaminya lulusan SMA. Buktinya hubungan mereka masih saja harmonis sampai sekarang. Tidak ada gesekan karena gelar nama istri yang lebih panjang dibanding suami. Saking hebatnya, ternyata sang suami sangat mendukung teman saya dalam menempuh pendidikannya ini. Ini baru satu contoh kecil dan saya yakin, pasti banyak hal serupa di luar sana.

Nah, makanya jika ada lelaki yang membuat jenjang pendidikan perempuan sebagai perkara dalam hubungan rumah tangga, harusnya itu adalah masalah dari pribadi si lelaki dan baiknya dikompromikan bersama sampai menemukan kata sepakat. Jadi, itu bukan tugas perempuan untuk terus melindungi lelaki dari kerapuhan maskulinitas yang diderita. Kalau melulu membatasi hal seperti itu, ya sama saja dengan menghambat perkembangan orang lain.

Menghalangi pendidikan itu termasuk ke dalam pelanggaran hak asasi loh, seperti yang sudah saya bilang bahwa hak pendidikan sudah tercantum dalah hak asasi manusia. Memang iya, kita pernah hidup di masa bekerja dan sekolah itu hanya bisa dirasakan oleh kaum adam. Namun itu sudah jauh lewat di belakang. Ratusan tahun kiranya sudah kita tinggalkan aturan semacam itu.

Kini hak memperoleh pendidikan dan juga pekerjaan yang layak sudah bisa menjadi hak semua orang tidak peduli apapun gendernya. Ingat ya sekali lagi, perempuan menempuh pendidikan tinggi itu bukan bermaksud untuk membuat lelaki terlihat payah dan lemah, ataupun menyaingi lelaki, tapi sepenuhnya membangun generasi. Lagipula, bukankah asyik kalau punya pasangan yang bisa diajak diskusi banyak hal karena wawasannya luas?

Baca Juga : Menjadi Simpul, Menggerakan Asa: Membaca Simpul Hidup Aditia Purnomo

Komentar

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *