Belajar Online Lebih Mudah Dengan Laptop Merah Putih

Semenjak 2019, pemerintah sudah melakukan beberapa upaya demi mengurangi penyebaran virus covid-19 yang makin masif. Salah satunya dari sektor pendidikan. Sistem belajar tatap muka menjadi tidak diberlakukan dan diganti dengan sistem belajar online ataupun daring.

Namun bagi beberapa kalangan terlebih kalangan masyarakat menengah kebawah, ini bukanlah hal yang mudah. Karena metode pembelajaran online sangat memanfaatkan jaringan dan teknologi. Jadi, wajib hukumnya bagi pelajar maupun pengajar memiliki akses jaringan dan juga gawai yang mumpuni.

Oleh karena itu, agar sistem pembelajaran online ini berjalan dengan baik di masa pandemi Covid-19, pemerintah memberikan sebuah bantuan berupa kuota gratis untuk para pelajar dan juga pengajar.

Selain memberikan bantuan kuota gratis, pemerintah baru-baru ini juga mengeluarkan anggaran yang cukup besar untuk pengadaan gawai berupa laptop, yang kini dikenal sebagai laptop merah putih.

Baca Juga: Potret Dunia Pendidikan Di Tengah Pandemi Corona

Namun pengadaan peralatan teknologi tersebut ramai di perbincangkan oleh banyak kalangan masyarakat. Lebih condong menuai kontroversi, lantaran anggaran yang dikeluarkan dinilai terlalu tinggi.

Nadiem Makarim selaku Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Mendikbudristek) mengatakan bahwa, pemerintah mengalokasikan anggaran sebesar Rp 2,4 triliun melalui dana alokasi khusus (DAK) untuk membeli 240.000 laptop produk dalam negeri.

Harga pengadaan laptop merah putih bila dihitung berkisar mencapai Rp 10 juta per unitnya. Sedangkan dari segi spesifikasi dari laptop, itu bisa terbilang rendah yang seharusnya berharga kisaran Rp 5 jutaan saja di pasaran.

Dengan anggaran sebesar Rp 10 juta, menurut David GedgetIn melalui kanal youtubenya, seharusnya kita sudah dapat laptop seperti Acer dengan processor Core i5 gen 11th, RAM 8GB, SSD 512GB, serta spesifikasi lainnya yang lebih baik untuk menunjang para pelajar.

Namun spesifikasi minimum yang diberikan oleh Kemendikbudristek yaitu dengan Processor Core 2, RAM 4GB, HDD 32GB, dan menggunakan Chrome OS.

Dari spesifikasi, laptop merah putih dikatakan sebagai laptop Chrome Book. Memang benar, ini cocok digunakan jika untuk kalangan pelajar. Sebab spesifikasi tersebut sudah cukup untuk dimanfaatkan dalam kegiatan pembelajaran.

Namun, jika dibandingkan dengan harga Chrome Book merek lokal bahkan dari merek luar negeri, kisaran harganya memiliki perbedaan yang cukup jauh. Contohnya, laptop Chrome Book merek luar negeri dibandrol dengan harga kisaran Rp 4-5 jutaan saja.

Sedangkan Chrome Book merek lokal yang spesifikasinya lebih rendah, harganya memang lebih tinggi sedikit. Misalnya seperti salah satu merek lokal yang biasa kita kenal yaitu merek Advan yang dibandrol sekitar Rp 6,2 juta. Tapi ya gak sampai segitunya juga sih.

Jika pada dasarnya pemerintah ingin menggunakan laptop dari produk lokal karena rendahnya pembelian produk TIK buatan lokal yang dibandingkan dengan  produk luar negeri, harusnya pemerintah dapat lebih menekan anggaran.

Tidak apa-apa juga kalau pemerintah ingin memberikan gawai mahal dengan embel-embel nasionalisme itu. Dengan catatan, fitur harus sesuai. Jangan harga selangit, tapi kualitas hanya rumah dengan dua lantai saja.

Baca Juga: Tetap Berliterasi Di Tengah Wabah Corona

Apa iya ya, semua hal yang ketika sudah diambil alih oleh pihak tersebut menjadi lebih tinggi harganya? Ingin merasa terbiasa tapi rasanya saya tidak bisa. Masih agak kaget-kaget sedikit, tapi faktanya memang begini dari dulu. Entah orang-orang juga termasuk saya yang terlalu naif atau denial ya.

Sudahlah, jangan mengada-ada. Dari awal pandemi dimulai, hingga kini pun kebijakan sudah banyak yang ajaib. Aneh tapi nyata. Membuat rakyat terkejut tak henti-henti. Rasanya seperti dikasih surprise, tapi gak lagi ulang tahun.

Komentar

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *