Belajar Dari Kampung Pink, Keberanian Merestorasi Bangunan Hingga Warganya

Ngeri bukan main bila rasanya menginjakkan kaki di sebuah kampung yang punya segudang catatan kriminal. Bila tidak punya tekad bulat dan nyali kuat bisa jadi pulang tinggal nama. Sungguh tragis~

Untungnya kabar baik berhembus kala mendengar tentang salah satu kampung di Tangerang yang dulunya kerap diselimuti kejahatan, kini berhasil disulap menjadi kampung yang sejuk dipandang, Kampung Pink.

Berlokasi di Kelurahan Tanah Tinggi, Kecamatan Tangerang, Kota Tangerang, baru-baru ini tengah santer menjadi buah bibir warga Tangerang. Siapa sangka, bahwa kampung yang dulunya menjadi zona hitam kriminalitas, dikarenakan marak dalam pelbagai tempat peredaran narkoba, perjudian, pencurian hingga sampai tawuran, sontak beralih fungsi sebagai kampung dengan suasana serta tema warna yang tak lazim.

Ibnu Jandi, selaku tokoh warga setempat di situ, sekaligus inisiator Kampung Pink menjelaskan mengapa dinamakan Kampung Pink. Bermula dari inisiasi warga setempat yang ingin mengubah total pada kebiasaan dan perilaku yang buruk ke arah lebih baik, sehingga mengubah kampungnya menjadi Kampung Pink. Meski sempat dari beberapa mereka tidak setuju, lantaran pemberian nama yang terkesan feminim.

Alhasil, proses negosiasi berujung kesepakatan dan sampai sekarang kampung itu disematkan dengan julukan Kampung Pink. Menurut Ibnu, dalam urusan pemilihan warna pink sebetulnya memiliki filosofi makna baik, pink dicitrakan ramah, santun dan yang bikin hebat adalah dimana mayoritas pemuda di sana terkenal sebagai bandit, merasa terketuk hatinya untuk move on hijrah ke jalan yang benar. Selain itu Kampung Pink juga memiliki arti “Paling Indah Nih Kampung“, ujarnya.

Proyek pengerjaan kampung pink dimulai sejak tahun lalu, tepatnya pada 17 September 2020 hingga saat ini. Bagi mereka yang tinggal di sana terus berupaya dan bergotong-royong, memperbaiki dari segi bangunan dan perilaku warganya. Hasil dapat dilihat pada setiap rumah maupun atap yang telah dicat dengan paduan warna pink, bahkan di sepanjang jalan, nampak tembok jalan dihiasi beragam gambar, seperti tokoh-tokoh nasional ataupun lainnya.

Baca Juga :  Stagnasi: Tambah Luka, Tambah Derita, Sialnya Tambah Cinta

Terdapat 412 rumah dengan total 12,5 hektar yang harus mereka warnai dengan tema Pink. Dan bukan perkara mudah untuk meyakinkan setiap warga agar rumahnya dicat menjadi warna pink. Sebab, pada mulanya ketika didatangi, setiap penghuni rumah curiga, untuk apa rumahnya dicat warna pink? Tapi, seiring berjalannya waktu, masyarakat mulai percaya dengan melihat berbagai agenda positif, serta dibantu dengan dorongan keyakinan, maksud dan tujuan yang jelas. Sehingga, kejadian berbanding terbalik, dulu sempat sering terjadi penolakan, malah ternyata banyak dari warga balik bertanya, “kapan rumah saya dicat?” ujar ketua panitia Kampung Pink.

Sebetulnya, menyoal kampung dengan tema warna telah ada lebih dulu, yaitu Kampung Bekelir (Kampung Warna-Warni). Seisi kampung tersebut dihiasi beragam warna. Tetapi, lain hal dengan Kampung Pink, cukup dengan satu tema warna yang jadi maskotnya. Perbedaan lain juga nampak jelas, bila Kampung Warna-Warni dalam proses pengerjaan melibatkan seniman dari berbagai kota bahkan negara, karena fokus dalam rangka lebih memopulerkan budaya atau ciri khas Kota Tangerang. Berbeda dengan Kampung Pink yang hanya melibatkan warga setempat dalam proses pengecatan.

Setelah sebelumnya telah ada 17 kampung tematik, kini, Kampung Pink telah menjadi destinasi wisata kampung tematik baru di Kota Tangerang yang layak dikunjungi. Semoga Kampung Pink bisa menjadi titik awal perbaikan lingkungan sekaligus mengangkat potensi sosial ekonomi masyarakat di sana.

Ke depan, semoga pemerintah juga turut mendorong gerakan positif semacam ini. Karena begini lho, entah bagi saya, karena pemerintah kurang peka atau kita sebagai warga asli yang kerap melulu ingin dapat uluran tangannya. Alangkah lebih baik, apabila berbekal inisiasi dari kita sendiri, selaku warga setempat yang masih sadar dan peduli akan lingkungan. Dengan begitu akan tercipta tatanan kampung yang harmonis dan layak tinggal, seperti Kampung Pink.

Baca Juga : Sudahkah Sistem Belajar Daring Efektif Atau Sebatas Sarana Alternatif?

Disarankan, bagi warga sekitaran Tangerang raya yang sekiranya sedang bosan di rumah, ingin mengisi waktu luang akhir pekan, kunjungi saja Kampung Pink. Melihat kegiatan sehari-hari warga di sana, bisa sembari berpotret, berlatar pemandangan menarik dengan pesona warna cerah yang nampak dari setiap rumah dan temboknya. Tenang kok, meski warganya dulu punya catatan menyeramkan, tapi tidak untuk sekarang ini, sudah jauh berbeda, lebih ramah, menyambut setiap pengunjung yang datang dengan penuh ceria dan kesopanan.

Komentar

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *