Belajar Dari Kampung Buku Jogja

Ketertarikan setiap orang dalam membaca buku, tidak dapat terlihat dari kasat mata saja. Ada yang gemar mengoleksi buku hingga bertumpuk-tumpuk, ada juga yang datang ke tempat penyediaan banyak buku bacaan. Seperti di perpustakaan, toko buku, sampai ke festival buku sekalipun pasti disambangi. Ya, untuk urusan beli menurutnya hal belakang. Terpenting dapat menyalurkan hasratnya.

Senin kemarin, 10 September, saya diberi kesempatan mengunjungi Kampung Buku Jogja #4. Sebagai orang yang datang dari jauh, kedatangan ke Jogja menjadi suatu kesempatan istimewa. Karena, event ini bukan sekadar pasar buku biasa. Lebih dari itu, Kampung Buku Jogja (KBJ) menyediakan tempat bertemunya para penulis, penerbit, pegiat literasi, hingga musisi.

KBJ #4 ini dihuni oleh puluhan penerbit indie maupun reguler sebagai ‘warga’ yang menyambut tamu-tamunya dengan lapak buku yang luas dan menarik untuk para pembeli. Para warga menawarkan buku-buku terbitan mereka dengan harga dan diskon yang biasa-biasa saja, tidak dengan diskon besar dan fantastis untuk menarik pengunjung di sana. Bahkan, beberapa penerbit menjualnya dengan harga normal yang biasa di jual di toko buku. Laku? Ya jelas. Mereka sudah punya pasar, punya peminatnya, punya pembaca setianya walaupun tidak menawarkan diskon yang tidak gede-gede amat. Hal ini yang membedakan dengan bazzar buku murah dengan diskon yang tinggi tapi kadang buku yang mereka tawarkan pun adalah buku-buku yang tak laku.

Bukan hanya dari golongan penerbit saja, ada juga warga yang mengoleksi buku-buku tua dan langka. Buku-buku tua itu diburu sebagian orang yang benar-benar mencari buku langka yang sudah tidak diterbitkan lagi. Atau memang buku antik tersebut adalah buku cetakan pertama dan mempunyai nilai historis tersendiri. Harga yang ditawarkan cukup mahal, namun bagi pengoleksi buku-buku tua, harga bukan jadi perkara besar.

Demi menyambut tamu dengan baik, KBJ juga menyiapkan foodcourt yang disediakan oleh warga yang fokus di dapur. Tempat ini disediakan untuk para tamu yang ingin ngobrol dengan teman atau kenalan baru di sana.

Sedangkan untuk pengurus kampung (panitia), mereka menyiapkan beberapa acara untuk menyambut para tamu seperti bincang-bincang bersama penulis, diskusi, orasi kebudayaan hingga hiburan oleh musisi-musisi lokal. Saya kira, baik pengurus kampung maupun warga berhasil melayani tamu-tamunya dengan baik dengan konsep acara yang menarik minat pengunjung. Hal ini yang membuat banyak tamu merasa terkesan dengan rangkaian acara yang disediakan, termasuk saya.

KBJ #4 hanya dilaksanakan selama empat hari, 10-13 September. Dalam empat hari tersebut, ada beberapa acara yang menarik mulai dari kuliah umum, orasi kebudayaan, bedah buku dan masih banyak lagi. Semua acara tersebut gratis tanpa dipungut biaya. Datang, duduk manis dan nikmati. Hanya saja ada acara khusus yang memerlukan syarat dan kuota terbatas untuk mengikutinya. Seperti kelas puisi yang disyaratkan mendaftar dan menyetorkan karyanya terlebih dahulu. Begitu juga dengan kelas editing dan kelas esai. Hal itu dimaksudkan agar proses pembelajarannya lebih efisien.

Pastinya acara-acara KBJ tersebut bukan rangkaian acara biasa. Adapula orang-orang hebat yang mengisi acara tersebut menjadi lebih menarik seperti Agus Mulyadi, Muhidin M. Dahlan, Joko Pinurbo, Toto Rahardjo, hingga Pidi Baiq.

Sekedar info, tahun ini KBJ bertema Jejak Langkah Orang-orang Buku dengan tamu literasi kehormatan: MADURA ‘Madura dalam Rumah Indonesia’ yang dilaksanakan di Universitas Gadjah Mada. Siapa orang-orang buku itu? Penulis? Orang-orang buku memiliki makna yang luas bukan sekadar penulis. Penulis, editor, penerbit, penjual buku, sampai pembaca pun adalah orang-orang buku tersebut.

Saya belajar banyak hal di KBJ tahun ini. Tentang bagaimana acara literasi bisa dikemas secara menarik dan tidak sepi pengunjung. Dari pengalaman saya mengikuti KBJ tahun ini terselip di benak ‘kapan Tangerang bisa mengadakan acara seperti ini?’. Kita harus belajar menciptakan pasar buku seperti halnya orang-orang buku di Kampung Buku Jogja.

 

 

Komentar

Bergembira sebelum negara api menyerang

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *