Belajar Berfikir “Dari Twitwar ke Twitwar”

Judul Buku     : Dari Twitwar ke Twitwar

Penulis            : Arman Dhani

Penerbit         : Mojok

ISBN13           : 9786021318171

 

Tahun 2015 sedang gencar gerakan #AyoMondok. Semacam gerakan agar masyarakat memondokkan anaknya di pesantren. Alasannya, di era internet ini banyak ajaran agama yang diajarkan serampangan. Tidak seperti pesantren, yang jelas sanad gurunya, jelas referensi kitabnya, dan pembelajarannya melalui metode kitab kuning yang dibimbing langsung oleh guru. Selain itu, mental masyarakat Indonesia katanya sedang tidak bagus. Makanya, salah satu cara memperbaiki mental masyarakat Indonesia adalah melalui gerakan ini. Saya setuju dengan gerakan #AyoMondok karena memang pendidikan di pesantren pas dengan program Jokowi yang katanya ‘Revolusi Mental’ itu.

Di saat banyaknya masyarakat yang mendukung gerakan ini, saya menemukan tulisan Arman Dhani yang seolah-olah menolak adanya gerakan #AyoMondok. Banyak netizen yang mengecam tulisannya. Saya sendiri termasuk yang berfikir kenapa ada orang yang masih menentang gerakan yang baik ini.

Ternyata, setelah saya baca lagi, tulisannya mengandung sindiran. Kata orang-orang yang berkomentar di bawah tulisannya, itu termasuk tulisan satire. Tulisan sindiran yang seolah-olah menolak padahal dia mendukung dan sedang menyindir orang yang menolak gerakan #AyoMondok.

Melihat respon seperti itu mungkin si penulis sendiri cengar-cengir sambil minum kopi dan berkata,”heh, dasar manusia medioker!”.

Menolak Gerakan #AyoMondok adalah salah satu tulisan satire yang ada di buku Dari Twitwar ke Twitwar. Buku yang berisi tentang kumpulan tulisan Arman Dhani yang pernah ia terbitkan dalam blognya dan media masa daring.

Sederhana dan berbobot. Itulah kesan yang muncul setelah membaca buku itu. Bahasanya ringan, tidak banyak istilah-istilah yang membingungkan. Membacanya seperti ngobrol langsung dengan si penulis, namun obrolannya berbobot berdasarkan data-data.

Ya, Arman Dhani selalu menyangkutkan dari satu kejadian pada kejadian yang lain. Dia mampu menghubungkan kejadian-kejadian tersebut lewat sisi konteks dan kronologinya. Ini kelebihan dari tulisan-tulisannya. Dia tidak menggiring opini pembaca, melainkan lebih sering mengajaknya untuk berfikir dari beberapa sudut pandang. Seperti pada tulisannya yang berjudul ‘Manusia Ambivalen’.

Dalam buku, banyak bab yang membahas tentang perempuan dan agama. Tentunya dia mengajak pembaca untuk berfikir dari beberapa sisi. Tidak banyak penulis seperti dia.

Dari banyak tulisan yang menyangkut tentang agama, ada satu pernyataan yang yang menurut saya kurang tepat. Pada halaman 51 disebutkan, “Kanjeng Nabi Muhammad pernah bersabda bahwa umatnya ‘kelak akan terpecah ke dalam 71 golongan yeng berbeda-beda,’ ini adalah sebuah peringatan. ‘Dan hanya satu dari mereka yang selamat,’ ini adalah harapan….” Yang saya tahu, umat Nabi Muhammad terpecah menjadi 73 golongan, sedangkan 71 golongan adalah untuk kaum Yahudi. Semoga ini kesalahan ketik dari editor.

Dari sisi keahliannya membuat tulisan-tulisan satire, Arman Dhani juga termasuk pencerita yang baik dengan gaya cerita khas dan sederhana. Tertuang di dalam bab “Ibu dan Ramadan”.

Saya beruntung bisa membaca buku ini yang kebetulan sedang belajar menulis esai. Membaca buku ini adalah referensi lain untuk saya belajar membuat esai yang sederhana dan berbobot. Tidak dengan bahasa yang rumit.

Kalo saya ambil pelajaran dari buku ini, bahwa menulis perlu kerja  otak. Dan, kerja otak, bagi beberapa orang adalah sesuatu yang tidak mudah dan kerap kali melelahkan.

“Saya masih percaya, menulis dan membaca adalah kegiatan yang membuat manusia setidaknya bisa menjadi manusiawi”. Sesederhana itu.

Komentar

Bergembira sebelum negara api menyerang

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *