Belajar Berdisiplin Bahasa Melalui Karya Aprilia Kumala

Manusia sebagai makhluk sosial membutuhkan sarana untuk berinteraksi, bahasa merupakan salah satunya. Bahasa memiliki struktur yang sangat kompleks. Sifatnya yang bervariasi dan berubah-ubah, mulai dari ejaan sampai pergeseran makna serta aturan membuat bahasa tak akan habis untuk dipelajari.

Banyak dari kita yang tidak menyadari bahwa Bahasa Indonesia memiliki seperangkat aturan baik dalam pengucapan maupun penulisan. Masyarakat bisa dibilang awam dalam hal ini, sehingga sering terjadi kesalahan dalam penulisan. Kesalahan tersebut terus berlarut bahkan menular antara satu orang dengan yang lainnya. Titik terparahnya adalah ketika mereka tidak mau mencari tahu dan memperbaiki kesalahan tersebut.

Jika kita berkaca pada beranda media sosial, pengetahuan masyarakat tentang bahasa begitu memprihatinkan. Sering kali saya merasa ‘geli’ ketika membaca status orang di media sosial. Kebanyakan orang menulis status tanpa memperhatikan kaidah bahasa. Tulisan-tulisan yang terkesan ala kadarnya tak jarang membuat pusing kepala untuk memahaminya.

Saya bisa dibilang golongan masyarakat awam bahasa, menyadari bahwa pengetahuan saya tentang bahasa juga sangatlah minim. Itulah yang mendorong saya untuk membaca buku “Saya Sebetulnya Bisa menjadi Polisi Bahasa,Tapi Lebih memilih menjadi Yang Setia” karya Aprilia Kumala. Ya,paling tidak harapannya setelah saya membaca buku ini mampu nyetatus di Facebook atau membuat caption Instagram dengan tata bahasa yang lebih teratur.

Aprilia Kumala sebagai penulis buku sekaligus redaktur di Mojok.co ini memiliki pengetahuan bahasa yang luas. Disamping itu, dia memiliki skill hebat sebagaimana layaknya seorang penulis dan editor. Dia mampu menelisik kesalahan-kesalahan yang sering terjadi dalam pemakaian bahasa, baik Bahasa Indonesia maupun Bahasa Inggris pada lingkup sosial kita.

Dari pemikirannya yang kritis juga turut dituangkan kedalam buku ini. Cara pembawaan bahasanya pun di buku ini terbilang asik dan santai.

Dalam penulisan buku ini khususnya untuk pembahasan bahasa Indonesia, Aprilia Kumala berpedoman pada KBBI (Kamus Besar Bahasa Indonesia). Penulis secara tidak langsung mengajak para pembaca untuk tidak malas membuka KBBI sebagai bentuk dari kecintaan terhadap bahasa. Apalagi kini KBBI dapat diakses dengan mudah melalui gawai.

Buku ini membahas bahasa yang berkembang di Indonesia. Pembahasan-pembahasan tersebut dikemas dengan santai namun tetap konsisten dengan apa yang ingin disampaikan kepada pembaca. Hal itu menjadikan kita sebagai pembaca begitu asik membaca dan memahaminya. Penulis bisa dibilang memang patut dikategorikan sebagai ‘Polisi Bahasa’, sebab ia mempunyai kepekaan tinggi terhadap bahasa.

Hampir setiap bab di buku ini dijelaskan secara singkat dan jelas. Pembahasan setiap bab selalu dihubungkan dengan isu-isu yang berkembang di masyarakat. Hal itulah yang membuat pembahasan tidak terlalu kaku.

Bab pertama dibuka dengan membahas Grammar Mistakes.  Pada bab ini dijelaskan olehnya beberapa kesalahan penggunaan Bahasa Inggris yang terjadi di Indonesia. Terdapat beberapa contoh pada bab ini, salah satunya penggunaan kata let tanpa huruf ‘s’ dan dengan huruf ‘s’. Baru membaca bab pertama saja rasa penasaran saya semakin bertambah. Penulis begitu lihai menentukan titik bidik, membuat isi dari buku ini begitu dekat dengan keadaan sosial kita.

Tak melulu mengenai kesalahan pemakaian kata atau penulisan, namun pada buku ini juga membahas pengertian dari beberapa majas. Salah satunya majas eufimisme yaitu majas yang baik hati dan tidak ingin menyakiti hati orang lain. Pada pembahasannya dijelaskan dengan menggunakan ucapan Vicky Prasetyo sebagai contoh majas eufimisme yaitu ucapan yang berbunyi “Wanita-wanita yang pernah singgah atau transititas di dalam kutipan sejarah katalog di dalam kehidupan aku”.

Dalam buku ini dijelaskan bahwa ucapan Vicky Prasetyo tersebut adalah bentuk dari majas eufimisme yang menggantikan kata ‘Mantan’. Meskipun ucapan Vicky Prasetyo lebih dominan pada majas metafora dan terkesan membingungkan, namun penulis mampu mencari celah pada hal tersebut. Saya pun baru mengenal majas eufimisme dan langsung paham maksud dari majas tersebut. Cara pembahasan pada bab lain tak jauh beda dengan bab pertama. Penulis selalu memberi contoh yang berhubungan dengan isu sosial masyarakat.

Bukan itu saja, pada bab lain dalam buku ini juga membahas perbedaan antara dua kata yang memiliki makna hampir mirip. Seperti kata: bulat; bundar; dan lingkaran. Adapula pembahasan mengenai penggunaan kata hubung ‘jika’ dan ‘maka’, pembahasan tentang aturan penulisan judul dan berbagai hal lainnya. Hal itu membuat buku ini terbilang unik.

Jika kalian ingin menambah wawasan tentang bahasa tapi tidak suka dengan diksi yang berat, buku ini adalah jawabannya. Menurut saya, buku ini cocok hadir di kalangan milenial. Tak bisa dipungkiri banyak gaya bahasa muncul di era globalisasi saat ini. Mensiasati hal itu, kita sebagai generasi penerus bangsa harus membentenginya dengan pengetahuan agar tidak mudah salah paham akibat kurangnya pemahaman tentang bahasa. Berbicara tentang bahasa, saya jadi teringat pada seorang ahli semiotika atau pakar komunikasi yang dulu pernah berkata bahwa manusia tanpa kemampuan berbahasa adalah tidak jauh bedanya dengan makhluk primata.

Judul : Saya Sebetulnya Bisa Menjadi Polisi Bahasa, Tapi Lebih Memilih Menjadi yang Setia

ISBN : 978-602-1318-79-9

Halaman : 210 halaman

Penerbit : Mojok Zlink!

Penulis : Aprilia Kumala

Komentar

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *