Bahayanya Buku Bajakan Dan Dampak Buruk Terhadap Penulis

Buku sebagai pedoman menggali ilmu pengetahuan secara luas kian tergeser dari mutu dan esensi nya. Hal itu dapat terjadi karena masih ada marakanya pembajakan buku. Parahnya, kondisi pola pikir masyarakat yang belum mumpuni, menjadikan untuk berpikir bahwa ‘intinya’ punya buku dan dapat dibaca.

Dapat ditarik pada sebuah asumsi bahwa kejadian ini mungkin mengakar akan banyaknya kebiasaan masyarakat Indonesia yang masih melakukan tindak pembajakan jawaban (contek) dari teman ketika mengenyam pendidikan di sekolah maupun perkuliahan.

“Tujuan pendidikan itu untuk mempertajam kecerdasan, memperkukuh kemauan serta memperhalus perasaan” – Tan Malaka

Agar dapat menjadi manusia yang punya tabiat baik, baiknya kita perlu menghilangkan budaya macam itu. Memang terkesan agak sulit, tapi apabila dilakukan perlahan-lahan pasti akan berhasil. Dan akan terasa pada cara pandang terhadap buku.

Itu segelintir saran yang keluar untuk para pembajak buku agar tersadarkan hati dan pikirannya, juga kepada para pembajak buku, coba pikirkan kembali bahwa Indonesia adalah negara hukum. Apapun prosedur nya, pasti termuat dalam undang-undang, termasuk buku yang telah tercantum dalam Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2014 tentang Hak Cipta.

Tepatnya, pada  Pasal 9 ayat (3) dinyatakan: “Setiap orang yang tanpa izin pencipta atau pemegang hak cipta dilarang melakukan penggandaan dan/atau penggunaan secara komersial ciptaan”. Pasal 10 dari undang-undang yang sama berbunyi “Pengelola tempat perdagangan dilarang membiarkan penjualan dan/atau penggandaan barang basil pelanggaran Hak Cipta dan/atau Hak Terkait di tempat perdagangan yang dikelolanya”.

Hukuman yang diberikan kepada pengusaha toko atau penjual buku bajakan bisa terkena pidana denda Rp 10 Juta rupiah. Dan untuk produsen atau pelaku pembajakan buku bisa lebih parah lagi hukumannya. Yaitu denda antara 100 Juta sampai dengan Rp 4 Miliar rupiah dan hukuman penjara 1 sampai 10 tahun.

Kemudian faktor buku bajakan menjadi liar terjual juga bukan semata berada pada kesalahan pembajak buku, disitu ada campur tangan pembeli yang subur dalam membeli buku bajakan.

Oke saja kalau suka dengan buku dan penulisnya yang terkesan begitu berbakat dalam hal kepenulisan. Namun pikirkan kembali nasib sang penulis yang terkena imbas besar akibat adanya imitasi dan royalti yang diterimanya semakin sedikit.

Berdasarkan sumber dari kompasnia.com, royalti standar penerbitan di Indonesia hanya sebesar 10% dari harga buku yang dijual. Kita ambil contoh semisal harga buku yang dijual seharga Rp 50 ribu dengan jumlah 5000 eksemplar, berarti penulis hanya mendapatkan royalti sebesar Rp 5 ribu (Rp 50 ribu x 10% = Rp 5 ribu).

Belum lagi penulis harus dihadapkan dengan pajak yang lumayan besar. Berikut lapisan penghasilan kena pajak pada PPh 17

Lapisan Penghasilan Kena Pajak Tarif Pajak
Sampai dengan Rp 50.000.000,- 5-10%
Di atas Rp 50.000.000,- s/d Rp 250.000.000,- 15%
Di atas Rp 250.000.000 s/d Rp 500.000.000,- 25%
Di atas Rp 500.000.000,- 30%

Sumber : https://nourabooks.co.id/penghitungan-pajak-penulis-dan-pekerja-seni-lainnya/

Penulis pun rela berkorban akan semua ini tentu bukan hanya persoalan sekadar dapat menelurkan buku saja, namun ada sebagian yang begitu mendedikasikan dirinya demi sebuah kebaikan. Tentang perjuangannya yang tak tanggung-tanggung, menghabiskan banyak waktu, pikiran, imajinasi, dan banyak hal untuk menulis sebuah buku yang kamu baca saat ini.

Apabila membeli buku bajakan, akan jauh sekali dari kata bagus dan merasa serupa seperti buku aslinya. Karena para penerbit buku bajakan cenderung kurang teliti dalam pencetakan. Makanya lebih banyak untuk tidak terang-terangan dan lepas dari tanggung jawab atas kualitas cetakan yang dihasilkan. Kalau buku terdapat cetakan cacat, yang dituduh kemungkinan besar malah penerbit aslinya. Padahal setelah ditelusuri, ternyata buku tersebut bajakan.

Hal yang paling banyak ditemui juga ternyata kualitas kertasnya kurang bagus, tinta di tulisan kurang jelas (buram), dan ada beberapa halaman yang kosong atau terlongkap.

Efek jangka panjang kalau keseringan beli buku bajakan juga para penerbit bajakan semakin kaya raya dan memiliki modal lebih besar untuk membajak buku-buku bagus lainnya. Secara tidak langsung seperti menolong para penjahat untuk menindas kaum-kaum penulis.

Maka dari itu, marilah mulai biasakan diri membeli buku original. Mahal sedikit tidak masalah, yang terpenting kualitas dan bisa lebih menghargai jasa penulis.

Serta lebih berkomitmen pada diri sendiri untuk tidak bersikap acuh dan menutup mata tentang menjamurnya pembajakan buku yang terjadi saat ini. Teguhkan pendirian dengan menganggap bahwa membeli buku bajakan bukanlah sebuah hal yang lumrah atau wajar-wajar saja. Karena pengonsumsian buku bajakan imbasnya akan sangat besar sekali terhadap penerbit dan penulis. Sedikit lebihnya, apabila tetap memillih membeli buku bajakan, sama saja dengan menyakiti hati penerbit dan penulis. Dan itu sungguh hal yang JAHAT.

 

 

Komentar
Arianto Darma Putra

Gua kece dari lahir, ya beginilah sudah takdir

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *