Bagimu Bacaanmu Bagiku Bacaanku

Mungkin kalian pernah menemukan tipe orang yang meledek bacaan orang lain. Bagi sebagian orang, membaca buku menjadi kegiatan keren-kerenan saja atau ajang lomba paling edgy. Menurutnya, membaca buku sejarah ataupun politik adalah hal keren. Mereka lupa, kalau pada akhirnya kita punya kebutuhan masing-masing.

Saya paling sebal, melihat perilaku orang yang membaca buku-buku berat lalu meledek orang yang membaca novel ataupun buku fiksi. Mungkin kalian sering lihat, adik-adik maba yang baru memabaca buku semacam Soe Hok Gie ataupun Tan malaka sudah berasa paling ngerti sejarah. Baca buku baru setengah sudah berani mengadu  debat sana-sini. Seram banget, kak.

Dan yang paling menyebalkan, ketika mereka melihat temanya membaca buku yang kebetulan genrenya tidak sama dengan mereka, lantas jadi bahan olokan. Hal tersebut pernah saya alami, waktu itu saya sedang membaca buku 24 Jam Bersama Gaspar karya Sabda Armandio. Seorang teman menghampiri dan penasaran dengan buku apa yang saya baca.

Ketika dia melihat sampul bukunya, sontak dia berkata  “Lu ngapain dah baca buku kaya gini? Ga ada manfaatnya anjir”. Tentu saya terkejut terheran-heran mendengar apa yang keluar dari mulutnya. Saya cuma merespon dengan tatapan tajam dan menimpali “siap bang yang paling berat bacaanya”. Lalu kembali untuk melanjutkan bacaan saya.

Mungkin dia lupa, setiap buku adalah jendela dunia. Kegiatan membaca novel ataupun buku fiksi masih saja dianggap sesuatu yang nggak berguna, nggak ada isi atau bahkan nggak berilmu. Terlepas dari itu, mau ada ilmunya atau tidak membaca untuk kesenangan kan sah-sah saja bukan.

Balik lagi, membaca buku kan berkaitan dengan kesenangan dan kebutuhan diri kita. Ya kalau kita ngerasa lebih butuh baca novel kenapa tidak? Nggak perlu baca buku yang fa fi fu was wes wos untuk mendapatkan ilmu. Setiap buku bacaan, ada pesan yang bisa kita ambil dari si penulis.

Baca Juga : Review Buku Sesekali Kita Butuh Sepi

Selain itu, membaca buku juga jadi salah satu kegiatan untuk merefresh otak kita yang mungkin sudah cukup stress.   Bagi sebagian orang, memabaca buku adalah salah satu cara rekreasi. Jadi saya fikir tidak ada satu alasanpun yang bisa dibenarkan ketika orang tersebut meledek buku bacaan orang lain.

Berat enggaknya buku yang kamu baca kan tidak dapat mengukur sejauh mana kemampuan kamu. Kita tentunya tidak bisa menilai ideologi seseorang dari apa yang dibaca. Kalau masih banyak yang bilang, baca fiksi ketinggalan zaman, baca fantasi dibilang ngayal, baca roman dikira galau, artinya anda yang ketinggalan zaman.

Ya saya harap sobat  Bimo, enggak ada yang punya sifat kaya gini yah. Buku itu sumber ilmu, apapun buku yang kamu baca pastinya bisa bermanfaat buat kamu. Sesekali mungkin perlu baca buku sejarah untuk mengenal lebih jauh sejarah kita. Tapi tidak ada salahnya jika orang tidak suka buku-buku seperti itu.

Bagimu bacaanmu, bagiku bacaanku tentu perbedaan adalah salah satu hal yang sanga indah. Kita hidup di negara yang banyak sekali perbedaan ragam dan budayanya. Tapi kita masih bisa rukun-rukun saja. Masa’ gara-gara bacaan saja kita jadi terpecah belah kan enggak lucu dong.

Baca Juga : Kita Tidak Pernah Sadar Bahwa Hidup Ini Berengsek

Membaca adalah kegiatan yang penting, tidak semuanya dapat membaca buku. Kalian yang dapat membaca buku adalah orang yang memiliki privilege. Dari segi waktu, keuangan dan akses kalian dikaruniai tuhan untuk dapat membaca buku. Manfaatkan sebaik-baiknya, karena membaca adalah hal dasar untuk melawan pembodohan.

Komentar

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *