Arswendo Atmowiloto: Permata yang Abadi

Mustahil rasanya jika anak kelahiran 90-an tak tahu sebuah serial tv berjudul Keluarga Cemara, sebuah serial tv yang menjadi salah satu serial yang ditunggu-tunggu. Tapi mungkin jarang yang tahu bahwa serial tv tersebut berangkat dari sebuah novel karya Arswendo Atmowiloto. Novel tersebut mula-mula terbit di tahun 1981. Hingga akhirnya menarik hati sebuah stasiun tv kala itu untuk dijadikan sebuah sinetron. Dan pada januari kemarin, Keluarga Cemara resmi tayang di layar lebar dan berhasil membuat air mata penonton mengucur.

Keluarga Cemara hanya potongan kecil dari sekian banyak mahakarya milik Arswendo. Pria kelahiran 26 November 1948 tersebut memulai perjalanan sastranya kala itu melalui cerita pendek yang berjudul Sleko, karya pertamanya yang berhasil terbit di majalah Bahari tahun 1971. Tahun-tahun berikutnya ia semakin dekat dengan dunia Kesusastraan. Ia sempat memimpin sebuah bengkel sastra Pusat Kesenian Jawa Tengah di Solo.

Arswendo merhasil meraih beberapa penghargaan lewat karya-karyanya. Tahun 1972, esainya yang berjudul Buyung–Hok dalam Kreativitas Kompromi berhasil memenangkan hadiah Zakse. Lalu, naskah dramanya yang berjudul Penantang Tuhan dan Bayiku yang Pertama, Sang Pangeran, Sang Pemahat berhasil menyandang hadiah dalam Sayembara Penulisan Naskah Sandiwara DKJ. Serta masih banyak lagi karya-karyanya yang berhasil mengukir prestasi. Saat itu bisa dibilang dirinya adalah sastrawan penting di Asia Tenggara.

Namun demikian, perjalanan karirnya bukan tanpa sandungan. Dirinya pernah terjebak dalam sebuah kasus kontroversial. Pada saat menjabat sebagai pemimpin Tabloid Monitor, kala itu majalah yang dipimpinnya merilis hasil jajak pendapat melalui angket yang berjudul Ini Dia: 50 Tokoh yang Dikagumi Pembaca. Kontroversinya, dimana dirinya menempati peringkat 10, di atas nama Nabi Muhammad yang menempati peringkat 11. Tentunya hal tersebut menyulut emosi masyarakat, karena dianggap menistakan agama. Berbagai tokoh agama hingga berbagai ormas islam mengecam hasil rilis tersebut. Dirinya selaku pemimpin redaksi dianggap orang yang paling bertanggung jawab dalam kasus ini.

Berbagai cara sudah ia lakukan guna meredam masalah tersebut. Dari mulai menghapus hasil rilis tersebut, meminta maaf secara terbuka, hingga meminta bantuan beberapa tokoh agama seperti Cak Nun dan Gus Dur. Kala itu Gus Dur Cuma berucap bahwa Tuhan tidak akan kehilangan wibawanya hanya karena hasil rilis tersebut. Namun massa yang sudah terlanjur tersulut api amarahnya menuntut untuk pembredelan Tabloid Monitor. Hingga akhinya tuntutan tersebut dikabulkan Harmoko selaku Menteri Penerangan kala itu.

Alhasil masalah tersebut mengantarkan Arswendo kedalam jeruji besi. Tapi permata tetaplah permata, mau dimanapun adanya, bahkan didalam lumpur terkotor sekalipun, tak akan mempengaruhi nilainya. Begitu pula yang terjadi pada Arswendo, walaupun mendekam di dalam jeruji, dirinya tetap menulis dan justru berprestasi. Dirinya tak menuliskan tentang pahitnya penjara ataupun kisah-kisah sedih lainnya. Di dalam penjara, Ia mencipta karya cerita bernada absurd, anekdot, dan kisah-kisah lucu lainnya. D idalam tahanan pula dirinya mencipta kurang lebih sudah 20 buku. Tentunya beliau merupakan seorang seniman yang patut menjadi tauladan.

Namun pada jumat, 19 Juli 2019, seniman kebanggaan Indonesia tersebut menghembuskan nafas terakhirnya. Dunia kesusastraan Indonesia kembali kehilangan sosok tauladan. Namun, apa yang sudah ia ciptakan, melalui karya-karyanya, tentu nama Arswendo Atmowiloto akan abadi di dunia kesusastraaan. Karya-karyanya akan diingat sepanjang zaman. Permata itu akan abadi.

Komentar

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *