Ardy Anto dan Perjalanan Gerakan Literasinya

Provinsi Lampung menjadi salah satu daerah yang memiliki banyak pegiat literasi. Gerakan literasi di sana cukup massif, mereka mendistribusikan buku pun cukup sederhana. Seperti Motor Pustaka, Ontel Pustaka, Hingga BMX Pustaka. Salah satu pegiat literasi yang saya kenal bernama Bapak Ardy Anto. Seorang pegiat literasi yang menggunakan motor sebagai teman menyebarkan virus membaca. Mereka bergerak demi satu tujuan: mencerdaskan anak bangsa.

Saya berkenalan dengan belio dari diskusi di grup WhatsApp pegiat literasi Tangerang kemarin malam. Saat itu sesi diskusi via WhatsApp berlangsung kurang lebih selama dua jam. Pembahasannya cukup sederhana seputar pengalaman belio menjadi pegiat literasi. Walaupun diskusi tersebut tidak seefektif diskusi secara langsung, namun dengan mengikutinya saya mendapat motivasi untuk terus menjalankan komunitas literasi.

Dua jam berbincang di grup WhatsApp itu kurang ngena. Lalu, saya melanjutkan perbincangan dengan Pak Ardy via telepon. Karena ada banyak hal yang ingin saya tanyakan terutama mengenai perjalanan belio di dunia literasi.

Sedikit info, Bapak Ardy Anto sudah berkepala empat dan menetap di Bakauheni, Kabupaten Lampung Selatan. Satu fakta yang membuat saya tertarik adalah belio berasal dari Balaraja, Kabupaten Tangerang. Belio menetap di Lampung sejak tahun 1998 semenjak belio menikah dengan gadis asal Lampung dan bekerja di sebuah percetakan.

Pak Ardy menceritakan bahwa perkenalannya dengan dunia literasi berawal dari ajakan Ratmiadi, penggerak Perahu Pustaka Lampung, ketika ingin mengadakan acara bakti sosial. Kala itu, Pak Ardy membantu untuk menyiapkan makanan. Setelah selesai acara dan berbincang banyak, Pak Ardy tertarik untuk ikut menyebarkan virus membaca di daerahnya dengan buku yang diberi dari Pak Ratmiadi.

Awalnya, Pak Ardy keliling di kampung-kampung untuk meminjamkan buku dengan jalan kaki. Belio tidak menggunakan kendaraan sama sekali walaupun jarak yang ditempuh cukup jauh. Sekitar 15 kilometer. Bagaimana dengan respon masyarakat? Pahit. Banyak masyarakat yang acuh dan cenderung mencurigai belio sebagai orang tidak baik.

Sekarang sudah berubah, Pak Ardy sudah mempunyai motor untuk menemaninya keliling kampung. Begitu juga dengan buku yang belio koleksi. Bukunya makin banyak karena banyak orang yang mengirimkan buku kepadanya. Respon masyarakat? Jauh lebih baik dari yang dulu. Hal itu bukan karena belio sudah mempunyai motor, tapi karena kegigihan dan konsistensi belio menebarkan virus membaca.

Pak Ardy mendapatkan motor yang digunakannya sekarang dari Presiden Jokowi sebagai bentuk penghargaan kepadanya sekaligus perpustakaan bergerak yang ada di Indonesia.

Menurut cerita Pak Ardy, pengalamannya di dunia literasi sangat ia syukuri. Dengan identitasnya sebagai pegiat literasi, belio bisa pergi ke berbagai kota untuk menyapa pegiat literasi di daerah lain maupun karena undangan sebagai pembicara di sebuah diskusi. Belio juga sangat senang bisa berjumpa dan berkenalan dengan tokoh-tokoh besar seperti Menteri Pendidikan Muhadjir Effendy, Najwa Shihab hingga Kang Maman. Yang lebih penting daripada itu, belio mendapatkan relasi dengan pegiat literasi lainnya di Indonesia seperti Nirwan Arsuka, Ridwan Alimuddin, Firman Venayaksa, dsb.

Terakhir, sebelum menutup telepon, Pak Ardy berpesan untuk saya dan pegiat literasi lainnya bahwa kita harus bekerja sama dengan pegiat literasi lainnya. Bangunlah relasi seluas-luasnya. Kata belio, dalam bertukar pikiran tidak ada pandangan senior atau junior dalam gerakan literasi. Tidak ada juga atasan maupun bawahan. Ketika kita berpadu, tukar pengalaman, disitulah makna kegiatan literasi yang sebenarnya.

Komentar

Bergembira sebelum negara api menyerang

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *