Akankah Tangerang Lebih Berbudaya Dengan Kampung Sastra?

Di Tangerang setidaknya sudah mempunyai tiga kampung tematik. Pertama, Kampung Bekelir dengan keunikan cat warna-warni yang menyelimuti kampung ini. Kedua, Kampoeng Markisa yang menjadi acuan kampung-kampung lain untuk menjalankan perilaku hidup bersih dan sehat. Ketiga, Kampung Batik yang menjadi salah satu pengembangan budaya, khususnya dalam bidang per-batik-an.

Kampung-kampung tersebut menjadi destinasi wisata untuk warga Tangerang dan sekitarnya. Di sisi lain, sebagai kota industri dan padat penduduk, Pemerintah Kota Tangerang sendiri telah merancang kampung-kampung tematik yang nantinya akan menjadi kampung mandiri dan tertata.

Dalam perkembangannya, kampung tematik bertujuan untuk mengembangkan sumber daya manusia. Kalau lihat Kampung Batik, masyarakat sekitar kampung tersebut sebenarnya diajarkan untuk mempunyai ketrampilan membatik. Ketrampilan yang dikuasai nantinya digunakan untuk memproduksi sebuah karya yang bisa dipasarkan dan memberi nilai jual.

Untuk mengembangkan seni dan budaya Kota Tangerang, Pemerintah Kota Tangerang akan meresmikan kampung tematik baru. Kampung Sastra namanya. Kampung tersebut berlokasi di Kelurahan Tanah Tinggi dan akan diresmikan awal Desember nanti.

Terbentuknya Kampung Sastra diinisiasi oleh jurnalis-jurnalis Kota Tangerang. Awalnya ide membuat kampung tersebut berawal dari pandangan meraka yang melihat Kota Tangerang ini kurang seni dan budayanya.

Kampung Sastra bertujuan sebagai wadah untuk berkumpul dan berbagi ilmu. Tempat berkumpulnya para pecinta sastra juga masyarakat lainnya untuk belajar. Nantinya, di kampung tersebut terdapat nilai edukasi. Baik anak-anak maupun orang dewasa bisa belajar sastra seperti puisi, cerpen, novel, dongeng, dan lain sebagainya.

Kampung Sastra hanyalah salah satu tempat untuk mengembangkan budaya yang ada di Tangerang. Sebenarnya, kegiatan-kegiatan yang nyastra sudah banyak di Tangerang. Di kampus saya, UKM Seni dan Budaya sangat menjunjung dan mengembangkan sastra di Tangerang dengan kegiatan-kegiatan rutin mereka.

Ada juga sanggar-sanggar yang diorganisir oleh orang-orang non-pemerintah yang eksis setidaknya dalam kurun empat tahun ke belakang. Seperti Sanggar 141, Balai Sastra, Komunitas Menulis Nyi Mas Melati, dsb. Mereka membentuk sebuah jejaring yang cukup kuat. Kegiatannya pun cukup banyak seperti menampilkan pertunjukan teater, pantomim, musikalisasi puisi, dan hal-hal yang menyangkut sastra.

Dengan hadirnya Kampung Sastra berarti ada perhatian pemerintah kepada pengembangan sastra yang ada di Tangerang. Dalam benak saya, Kampung Sastra ini akan memunculkan bibit-bibit sastrawan dari kota industri ini. Lebih panjang lagi, kampung ini akan menjadi pusat sastra yang ada di Tangerang. Sastrawan akan berkumpul, menampilkan karya-karyanya. Kalau sudah seperti itu, Kota Tangerang akan lebih nyastra. Semoga saja.

Sastra milik semua orang. Setidaknya itulah yang saya dapat dari penulis Okky Maddasari. Sastra bukan milik orang-orang yang yang berada di pusat kebudayaan maupun orang terpelajar saja. Ketika sastra dekat dengan masyarakat, tentunya masyarakat kita akan lebih berbudaya.

“Seharusnya kita membawa sastra itu semakin dikenal pada banyak orang, bukan hanya kelompok kecil yang itu-itu saja. Contoh kecilnya kita lihat masyarakat disekitar kita, tetangga kita, apakah mereka tahu apa itu sastra? Apakah mereka membaca sastra? Tentu tidak banyak yang mengenal sastra.” -Okky Maddasari.

Komentar

Bergembira sebelum negara api menyerang

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *