aurel

Agar Tak Ada Lagi Korban Seperti Aurel

Beberapa hari yang lalu, muncul berita tentang meninggalnya seorang Calon Paskibraka asal Tangerang Selatan. Aurellia Quratu Aini, siswi kelas XI MIPA 3 SMA Islam Al Azhar BSD menghembuskan napas terakhirnya sebelum berhasil mewujudkan keinginannya, yaitu mengibarkan Sang Saka Merah Putih.

Aurel, sapaan akrabnya, adalah wanita ceria sekaligus tangguh yang mencoba menembus batas kemampuan diri demi mimpi. Tentu sebuah kebanggan bisa menjadi Pasukan Pengibar Bendera Pusaka di sebuah Upacara Kemerdekaan, apalagi sekelas upacara besar yang dihadiri orang-orang penting. Tapi kita sama-sama tahu bahwa untuk mencapai titik itu, ada perjalanan yang amat sulit untuk ditempuh. Seleksi yang amat ketat, persaingan, dan membuktikan diri kita adalah yang terbaik sudah jadi sebuah keharusan.

Menembus batas diri, mengubur ketakutan dalam-dalam, memperkokoh mental, dan tentunya melakukan serangkain kegiatan fisik berat lainnya. Itu semua kiranya adalah hal yang musti dilakukan.

Aurel hampir saja mampu melakukan itu semua, bahkan teman-teman terdekat hingga seniornya mengatakan bahwa dirinya adalah sosok yang diunggulkan. Bukankah hal tersebut adalah pelecut semangat diri untuk Aurel, setelah banyak hal-hal yang membuat dirinya mengendur, berkat motivasi tersebut dirinya tentu menjadi optimis lagi.

Sebuah adagium, bahwa hasil tidak pernah mengkhianati proses tentunya sudah sangat akrab di telinga, bahkan selalu menjadi pegangan untuk terus melakukan hal-hal yang sebenarnya diri kita tak mampu. Kita seakan selalu percaya bahwa hasil yang baik adalah hak kita setelah proses berat telah kita lalui. Padahal tidak. Hasil tidak pernah mengkhianati proses, tapi sudah berapakali dirimu dikhianati hasil? Kenapa masih percaya?.

Sebenarnya, obrolan terkhir ibunda dan Aurel sudah mengisyaratkan untuk mengakhiri perjuangannya. Di salah satu media, Ibundanya bercerita tentang obrolan terkahir dengan Aurel, Ibunda berucap “..kamu jangan ikut kalau kamu tidak sanggup..” Namun Aurel tetap memaksakan diri untuk melanjutkan perjuangan demi mimpinya yaitu tergabung dalam Paskibraka.

Namun takdir berkata lain, dirinya yang kelelahan mendadak terjatuh di kamar mandi, membuat sebagian otaknya tak berfungsi. Aurel menghembuskan nafas terakhirnya dirumah sakit. Mimpinya, untuk menjadi Paskibraka tak terwujud. Membayangkan menjadi pemegang baki Sang Saka Merah Putih, selesai bertugas, berlari ke kerumunan orang tua dengan rasa bangga, namun semua akhirnya sirna.

Tentu kasus ini harus jadi renungan kita semua. Barangkali, terlepas dari kesalahan sistem pembinaan Paskibraka tempat Aurel dibina. Tapi pernahkah kita berpikir barangkali kesalahan justru ada di masing-masing diri. Kadang kala, demi sebuah impian, menyenangkan orang banyak, kita memaksa menembus batas-batas kemampuan diri. Beruntung jika misalnya apa yang kita inginkan bisa tercapai. Tapi bagaimana jika kasusnya malah seperti yang dialami Aurel.

Kita bisa belajar dari kasus ini, kita yang tahu tenggat waktu dir sendiri, merebahlah jika sudah tak sanggup. Apabila kita menilai bahwa diri ini sudah tak mampu, akhiri saja perjuangan. Bukan berarti kita kalah. Hanya saja, barangkali itu keputusan yang tepat. Tulisan terakhir di Diary Merah Putih milik Aurel menjadi sebuah kenyataan. Dibuku harian nya, ia menulis dengan judul ”Tentang Latihan Terakhir”. Hingga akhirnya kini semuanya benar-benar berakhir. Aurel telah pergi, bersama mimpi-mimpinya.

Komentar

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *