digitalisasi buku

Adanya Digitalisasi Buku, Apakah Perpustakaan Akan Sepi?

“Perpustakaan adalah tempat untuk memenuhi dahaga ilmu pengetahuan”- Gus Dur

Ketika berbicara ilmu, maka perpustakaan adalah gudang dari segala ilmu pengetahuan. Namun kini peran perpustakaan sebagai gudangnya ilmu perlu dilirik serius—khususnya di negeri tercinta ini. Rasa-rasanya perpustakaan di Indonesia sudah tersebar dimana-mana—namun mengapa tingkat literasi masih rendah?.

Bila berkaca pada negara-negara maju diluar sana, maka akan timbul pertanyaan—“mengapa mereka mempunyai tingkat literasi lebih tinggi dibanding kita?”,”padahal pegiat literasi kita sudah banyak dan tersebar dimana-mana bahkan sampai pelosok negeri”. Nah, menurut pandangan saya sebagai orang yang baru saja menggeluti dunia literasi, salah satu faktor yang membuat suatu negara mempunyai tingkat literasi tinggi adalah perpustakaan yang dikelola dengan baik.

Di zaman serba digital seperti sekarang, buku pun tak lepas dari digitalisasi—dalihnya agar mudah diakses—kita bisa membaca dimana pun, kapan pun dan dengan siapa pun. Perpusnas pun sudah meluncurkan aplikasi iPusnas, yang kemudian disusul oleh pemerintah Kota Tangerang dengan aplikasi I-Tangerang nya. Dengan digitalisasi buku seperti itu dimaksudkan agar warga yang mempunyai gawai dapat mengakses buku dengan mudah.

Baca juga : Asyiknya Baca Buku Koleksi Perpustakaan Nasional di Aplikasi iPusnas

“Dengan digitalisasi seperti itu, apakah perpustakaan akan sepi pengunjung?”—mungkin iya, juga mungkin tidak.

Alasan kenapa perpustakaan bisa sepi pengunjung antara lain birokrasinya yang rumit seperti waktu peminjaman, tempat yang terlalu kaku hingga ancaman denda bagi peminjam yang lalai mengembalikan buku. Tak jarang juga koleksi buku sebuah perpustakaan membosankan dan itu-itu saja.  Padahal sudah jelas bahwa yang penting dalam perpustakaan adalah pengelolaannya. Tugas seorang pustakawan tak hanya menjaga, tapi juga memahami minat baca pengunjung—seperti buku apa saja yang sering dibaca pengunjung, serta harus ada pembaharuan koleksi buku.

Baca juga : Ridwan Alimudin: Menggerakkan Literasi Bukan Cuma Soal Menggelar Lapak Baca

Anggapan bahwa perpustakaan akan sepi pengunjung karena digitalisasi juga tak sepenuhnya benar. Nyatanya masih banyak perpustakaan yang ramai pengunjung. mereka berkunjung ke perpustakaan untuk menemukan bahan bacaan atau untuk referensi karya ilmiah. Kita bisa lihat perpustakaan di Universitas Indonesia—perpustakaan tersebut tidak pernah sepi pengunjung. Ribuan orang datang setiap harinya untuk berkunjung ke perpustakaan tersebut. Di samping karena koleksi buku yang begitu banyak, tempat yang nyaman menjadi alasan banyak orang mengunjunginya.

Di Perpustakaan Nasional pun demikian. Walaupun Perpusnas sudah menyediakan perpustakaan online, tapi perpustakaan ini tak pernah sepi dari pengunjung. Hal yang unik dari perpustakaan ini terletak pada bangunannya yang begitu tinggi dengan ruangan-ruangan yang bervariasi dan nyaman. Sehingga tercipta sebuah iklim yang nyaman untuk para pengunjung.

Perpustakaan sebagai rumahnya ilmu tentu tidak bisa kita abaikan begitu saja keberadaannya walaupun sudah banyak digitalisasi buku—karena fungsi perpustakaan bukan hanya menyediakan buku saja. Lebih dari itu, banyak arsip-arsip sejarah yang perlu disimpan sebagai pembelajaran generasi selanjutnya.

Komentar

Bergembira sebelum negara api menyerang

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *