86: Saat Uang Memperlancar Segala Urusan

“Di hidup ini uang bukanlah segalanya” ungkapan seperti itu hanya dirasa pada orang yang gaya hidupnya tidak jauh dari kesederhanaan. Namun saya percaya bahwa kesederhanaanpun ujung-ujungnya akan berpangku dengan yang namanya uang.

Seperti dalam novel yang berjudul 86 karya Okky Madasari, di buku ini digambarkan seseorang yang akhirnya mentuhankan uang. Dijelaskan juga begitu detail jika segala kebutuhan hidup manusia selalu tak pernah lepas dari uang. Uang bagaikan pemenuh kebutuhan utama selain cinta.

Terdapat 2 tokoh utama yang terdapat dalam novel ini, Arimbi dan Ananta. Mereka sepasang insan yang tinggal di daerah ibu kota. Nyatanya kehidupan di Jakarta tidaklah lebih baik dari kehidupan orang tuanya di kampung halaman.

Mulanya kehidupan mereka berkecukupan, Arimbi gadis lugu dan baik hati, bekerja di kantor pengadilan sebagai juru ketik. Sedangkan Ananta seorang yang sangat penyayang, bekerja sebagai sales sepeda motor. Cerita kehidupan mereka semakin rumit saat memutuskan untuk hidup bersama dalam sebuah ikatan mahligai rumah tangga.

Segala macam permasalahan datang saat mereka telah hidup bersama sebagai  pasangan suami istri. Pasangan muda ini merasa kurang cukup bila hanya mengandalkan gaji dari masing-masing pekerjaan yang telah mereka tekuni.

Bisikan untuk menambah penghasilan datang dari mulut Ananta. Ia berkata lembut pada Arimbi, jika seorang juru ketik seperti dirinya sangatlah rugi jika hanya mengandalkan gaji  bulanan saja. Seharusnya Arimbi meminta jasa ketik (upah) ke setiap pengacara dan atasannya dalam setiap perkara putusan, sebab itu adalah haknya untuk mendapatkan bonus.

Ananta sangat yakin jika semua profesi yang sama dengan Arimbi juga tentu melakukan hal yang serupa, apabila kasus yang ada di pengadilan ingin cepat terselesaikan.

Sifat Arimbi yang terbilang sangat lugu awalnya menolak untuk melakukan bisikan yang dikeluarkan Ananta. Tapi kelihaian Ananta saat meyakinkan Arimbi bahwa itu adalah hal lumrah yang biasa dilakukan. Akhirnya Arimbi menurut atas tawaran menggiurkan tersebut.

Hari-hari di pekerjaannya ia ubah, pada setiap kasus yang telah selesai disidang. Ia ketik, lalu meminta uang tip ke setiap pengacara yang ia temui, jumlahnya memang tidak besar, satu atau dua lembar ratusan ribu masuk ke kantong pribadi Arimbi.

Ia juga melakukan hal sama kepada atasannya Bu Danti, dengan ringan Bu Danti akan memberikan uang kepadanya. Meski tak lebih besar dari semua pengacara yang memberikannya uang, namun Arimbi harus menurut atas keinginan atasannya tersebut. Terkadang juga Arimbi kembali mendapatkan uang dari kerja lemburnya mengetik hasil putusan sidang. Kehidupan mereka lama-kelamaan membaik, tidak lagi dipusingkan untuk menghemat keperluan hidup sehari-hari.

Atas sifat Arimbi yang sangat lugu, akhirnya Ia masuk kedalam lingkaran penyuapan kasus korupsi. Hal itulah yang mengubah seluruh kehidupan yang mereka jalani, dan menghapus asa yang telah digantungnya di langit.

Sejatinya manusia selalu membutuhkan uang, uang akan memperlancar segala urusan manusia. Karena hanya dengan uang, penjara yang katanya dingin dan seram, dapat dengan mudah diatur sesuka hati, asalkan punya duit ‘Delapan Enamlaah’ kita sama-sama tahu. Semua beres jika ada uang, kasus-kasus yang telah lama terbengkalai bisa dengan mudah dan cepat terselesaikan. Contohnya seperti pembuatan sertifikat, surat penikahan, sampai menjenguk tahanan di penjara.

“Ya kalau begitu, tolong saya dihubungkan sama bosnya Mbak. Sudah tidak usah sungkan-sungkan. Memang kita baru kenal, tapi ya sama-sama tahulah, delapan enam aja deh!” –hal 94

Ketika membaca novel ini Anda akan dibuat kesal atas sikapnya, tapi di lain sisi, hal positif yang dapat diambil ialah cerita ini membukakan lebar-lebar jalan pikiran kita untuk tidak menggampangkan segala urusan dengan uang.

Saya suka novel ini karena penulis pintar sekali memainkan perasaan pembaca lewat alur cerita yang sungguh tak terduga. Selain itu bahasa yang digunakan ringan dan mudah dimengerti

Novel ini saya anjurkan kepada pembaca yang masih berpikiran jika hidup sejatinya tidak membutuhkan banyak uang. Jadi, agar tidak salah persepsi, lebih baik dilahap dulu novel ini.

 

Judul : 86

Penulis: Okky Madasari

Tebal halaman: 20 cm, 256 hal

Penerbit : PT Gramediia Pustaka Utama

ISBN : 978-979-22-6769-3

Komentar

Engga suka digigit nyamuk

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *