5 Buku Yang Dituduh Mengandung Unsur Vandalisme

Di tengah Pandemi Corona, perhatian publik sempat teralihkan oleh kelompok anarko yang merencanai penjarahan hingga tindakan vandalisme. Sebutan gerakan anarko sendiri adalah akal-akalan narasi buatan polisi. Entah dengan keterangan jelas, saya juga bingung tindakan seperti itu sebenarnya bisa disebut anarko atau bukan.

Aksi vandalisme sendiri dilakukan di beberapa daerah dan salah satunya di Tangerang dan mulai melancarkan aksinya pada 9 April lalu. Aksi ini dilakukan di 4 titik wilayah Kota Tangerang: Pasar Anyar, kedua kantor BCA Pasar Kisamaun, trotoar serta dinding Jalan Kali Pasir, dan BRI Imam Bonjol. Pesan yang orang-orang ini tulis berupa “Kill The Rich”, “Mati Konyol atau Melawan” dan “Krisis, saatnya membakar”.

Menurut penuturan polisi, aksi tersebut bertujuan untuk menebar keresahan serta teror, hingga nantinya membuat suasana semakin tak kondusif. Sampai akhirnya polisi sudah mengamankan kelompok ini dengan jeratan beberapa pasal yang saya malas menulisnya di sini.

Beberapa barang buktipun juga sudah di sita, salah satunya adalah buku. Kapolres Metro Tangerang Kota memberi pernyataan jika buku-buku yang disita mempengaruhi pola pikir dan sudut pandang orang-orang ini. Tindakan menjadikan buku sebagai barang bukti aksi vandalisme sendiri kemudian menuai banyak kritik dan amat disayangkan oleh banyak orang.

Kita sepertinya lebih baik jika mengabaikan saja tindakan orang-orang yang katanya anarko ini, dan fokus kepada tindakan polisi yang menjadikan buku sebagai barang bukti. Sebenarnya buku apa saja sih yang dijadikan barang bukti? Langsung saja kita meluncur ke pembahasan ya, BT Lovers~

  • Aksi Massa – Tan Malaka

Tan Malaka adalah salah satu pahlawan negara, gagasan serta pemikirannya dituangkan dalam buku dan jadi bacaan menyenangkan banyak orang. Aksi Massa sendiri ditulis pada 1926 di Singapura. Buku yang di tulis pahlawan nasional ini sendiri berisi tentang berbagai hal: Macam-macam imperlialisme, keadaan rakyat Indonesia, hingga sekilas tentang Gerakan kiri di Indonesia.

Baca Juga : Ketika Para Babi Memimpin Revolusi

Pengantar buku ini bahkan tertulis jika bangsa-bangsa di Asia akan meraih kemerdekannya, salah satunya adalah Indonesia. Buku yang mencerahkan dalam banyak hal ini kok ya bisa-bisanya dituduh seenak jidat oleh para polisi. Jangan-jangan ungkapan “rajin membaca jadi pandai, malas membaca jadi polisi” memang benar.

  • Corat-Coret di Toilet – Eka Kurniawan

Eka Kurniawan adalah salah satu penulis yang saya idolai karena gaya bertuturnya memang sangat menyenangkan sekali. Buku Corat-Coret di Toilet adalah kumpulan cerita pendek yang pertama kali diterbitkan pada 2014 oleh PT. Gramedia Pustaka Utama.

Ada 11 judul cerita pendek dalam buku ini, salah satunya corat-coret di Toilet yang menceritakan tentang orang dengan berbagai karakter yang mencoret tembok toilet kampus. Mungkin, vandalisme dituduhkan pada buku ini karena judulnya corat-coret. Keren banget deh pokoknya pak isilop mah, menduga bahwa buku ini mengantarkan orang jadi suka corat-coret sembarangan.

  • Negeri Para Bedebah – Tere Liye

Kepolisian Resor Banjar, Jawa Barat, mengunggah foto di Instagram resmi humas polda yang isinya adalah Buku Tere Liye – Negeri Para Bedebah sebagai barang bukti atas aksi yang dilakukan oleh tiga orang pemuda yang melakukan aksi vandalisme.

Secara pribadi, saya akui belum pernah membaca buku-buku yang ditulis oleh Tere Liye. Tetapi dari penulusuran mencari tahu isi cerita pada buku ini, isinya adalah perjuangan orang bernama Thomas untuk menyelamatkan bank. Di Tangerang, aksi vandalisme memang ada yang dilakukan di Bank, apa iya polisi menuduh Buku ini karena kejadian di Tangerang? Mantap memang deh, tak salah jika para bidan mengidamkan polisi menjadi suami mereka.

  • Sebuah Seni Untuk Bersikap Bodo Amat – Mark Mason

Buku ini sangat hits ketika awal kemunculannya. Ada banyak sekali teman saya yang memfoto buku ini lalu mengunggahnya di akun media sosial mereka masing-masing. Buku Ini menceritakan tentang seorang pecandu alkohol yang senang bermain perempuan dan memiliki cita-cita untuk menjadi seorang penulis.

Pada akhirnya ia memang berhasil menjadi penulis dan buku pertamanya tidak didedikasikan untuk siapapun ini melebihi ekspektasi. Baginya, merasa cuek dan bodo amat memang cara terbaik mengatasi hidup yang memiliki banyak persoalan. Jadi, apa sih yang vandalisme sebenarnya di buku ini? Kalian pasti bingung, apalagi saya yang sampai mengernyitkan dahi atas ketidakjelasan penyitaan buku yang sangat fenomenal ini.

  • Syeikh Siti Jenar Sang Kontroversial– Susatyo Budi Wibowo

Saya juga belum membaca buku terbitan Araska Publisher ini. Tidak mungkin rasanya saya langsung menceritakan isi buku tersebut di artikel ini secara lengkap. Cara yang bisa saya lakukan hanya bertanya pada teman yang sudah menamatkan bukunya.

Singkatnya, buku ini menceritakan tentang Syeikh Siti Jenar, sosok terkenal dengan kewaliannya yang menyebarkan filsafat islam yang sarat makna. Kata teman saya, sangat tidak ada kaitannya membaca buku yang sarat sufisme dengan tindakan orang-orang anarko itu.

Atas kasus penyitaan beberapa buku tadi saya sampai-sampai berpikir bahwa negara ini sangat mudah sekali menilai buku hanya melihat dari judul ataupun covernya saja, tanpa tahu isi bacaan buku tersebut. Nah, coba dari 5 buku yang dituduh vandalisme ini sebenarnya Pak Polisi sudah membaca yang mana? Yang saya tanya bukan baca judulnya ya, Pak.

Baca Juga : Cara Ampuh Mengobati Patah Hati Ala Anak Literasi

Komentar

Nggak bisa tidur kalau belum diucapin selamat malam

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *