4 Buku yang pernah dilarang beredar di Indonesia, sudah tahu?

Saya pernah menulis tentang makna dari lagu “Jangan Bakar Buku” Efek Rumah Kaca dalam situs ini, salah satu makna yang tersirat ialah persoalan beberapa buku yang diberangus pers oleh pemerintah dan dilarang dibaca oleh masyarakat. Loh, kok ya bisa?

Padahal yang sudah kita ketahui bahwa buku merupakan jendela dunia. Dari membaca buku, kita dapat menemukan hal-hal yang baru. Kita tak tahu pemikiran apa yang sedang berkembang tanpa membaca buku. Lagi pula, Penulis ialah salah satu profesi yang perlu diberikan wadah dan apresiasi dalam menuangkan ide dan gagasan pikirannya.

Saat zaman orde lama sampai orde baru, kebebasan berpendapat selalu diatur ketat oleh Pemerintah, salah satunya dalam penerbitan buku. Banyak buku-buku yang diberedel. Pada saat itu, Indonesia seakan mematikan keran kebebasan berpendapat dan tentu saja penerbitan buku tidak sebebas saat ini.

Jadi, silakan disimak, Lur. Ini ada 4 buku yang dilarang beredar.

  1. Tetralogi Pulau Buru karya Pramoedya Ananta Toer

Karya Masterpiece Opa Pram ini memang begitu menawan dan dikisahkan bagus sekali. Seorang budayawan hebat yang mencatat sejarah bangsa Indonesia secara detail di dalam buku-bukunya. Karyanya yang satu ini dilarang karena pemerintah menganggap buku ini punya paham komunisme yang terdapat marxisme dan leninisme.

Padahal dalam buku Tetralogi Pulau Buru ini, Pram mengemukakan terbentuknya nasionalisme pada awal kebangkitan nasional. Pada zaman dahulu, saat buku ini ingin disebar luaskan, pemerintah langsung melarang beredarannya.

  1. Demokrasi Kita – Mohammad Hatta

Buku karangan Wakil Presiden Indonesia pertama dilarang terbit dari masa orde lama hingga orde baru. sangat aneh kan? Padahal kita tentu tahu bahwa Bung berkacamata ini juga memiliki peran krusial saat masa kemerdekaan Indonesia sekaligus sahabat dari Bung Karno.

Pada buku terbitan Tempo, buku ini diceritakan Bung Hatta mengkritisi kepemimpinan Bung Karno yang terkesan otoriter. Bung Hatta bahkan meramalkan jika Indonesia mempunyai pemimpin yang memimpin dalam jangka waktu yang lama, akan timbul pemimpin yang seperti itu kembali. Ramalan ini kemudian terbukti, setelah Bung Karno lengser, Soeharto menjadi bapak pembangunan selama 30 tahun lebih. Buku ini dilarang karena Bung Karno beranggapan ini akan mengganggu stabilitas negara.

  1. Di bawah Lentera Merah – Soe Hoek Gie

Siapa sih mahasiswa yang tidak mengenal sosok ini? Kisah dan pemikiran Gie menjadi inspirasi para mahasiswa, bahkan tak sedikit mahasiswa yang ingin sepertinya. Gie melalui buku ini bernarasi mengenai gagasan kebangsaan yang muncul melalui organisasi.

Buku ini menyoroti pergerakan Sarekat Islam Semarang. Semaoen sebagai Pimpinan tertinggi waktu itu melawan segala bentuk penindasan dan kesewenang-wenangan. Gie mengajak pembacanya menelusuri pergerakan Indonesia pada tahun 1920-an dan mencermati setiap tokoh pergerakan dalam menyikapi perubahan.

Bisa kita lihat pada sampul buku ini, berlatar merah dan hitam dengan adanya lambang palu dan arit. Menurut saya dari sampulnya saja sudah menjelaskan penyebab buku ini dilarang beredar.

  1. Amerika Serikat dan Penggulingan Soekarno 1965-1967 – Peter Dale Scott

Dari judulnya saja buku ini sudah menarik kita untuk ingin tahu bagaimana peristiwa saat itu. Buku yang ditulis Scott ini mengungkapkan ada campur tangan Amerika Serikat dalam penggulingan Presiden Soekarno secara kotor pada tahun itu. Buku ini tidak hanya memberi kesan bahwa peristiwa tahun itu hanya berasal dari militer Indonesia yang bekerja sama dengan AS. Tapi juga bernarasi tentang konspirasi yang terselubung dan rumit. Buku ini dianggap berbahaya oleh pemerintah dan dilarang peredarannya pada tahun 1990.

Pemerintah tentu saja tidak ingin mengambil risiko dan mengungkapkan dalih kestabilan negara sebagai bahan utama untuk memberedel buku ini. Apalagi, pada masa itu Presiden Soeharto masih memimpin. Sehingga buku tersebut dilarang untuk beredar.

Sebenarnya masih banyak lagi buku yang dilarang beredar, mulai dari berbagai latar belakang cerita. Akan tetapi, empat buku yang saya sebutkan di atas ini tentu jadi sebuah bukti bahwa kebebasan berpendapat melalu media apapun sempat diatur dengan ketat dan tak sebebas sekarang.

Dari 4 buku ini, kalian sudah baca yang mana, BT Lovers?

Komentar

Nggak bisa tidur kalau belum diucapin selamat malam

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *