3 alasan yang membuat seseorang gagal menulis

Sebelum melanjutkan membaca, perlu dipahami jika yang dimaksud menulis dalam hal ini adalah membuat sebuah artikel, cerpen, atau karya tulis lainnya. Kalau menulis pesan di Whatsapp atau sekadar menulis catatan sih, selama orang yang membaca nya dapat memahami apa yang dimaksud, saya kira semua pasti bisa menulis. Namun, dalam urusan membuat sebuah tulisan seperti yang tadi saya maksud, banyak dari kita yang merasa gagal melakukannya.

Ada beragam faktor yang menyebabkan seseorang gagal menulis, atau setidaknya merasa mentok ketika menulis. Dan alasan-alasan itu, sebenarnya adalah hal-hal sederhana yang bisa disiasati. Supaya mampu menyiasatinya, mari kita pahami apa saja sih alasan-alasan yang membuat seseorang gagal menulis. Berikut beberapa alasan tersebut.

Tidak Mau Memulai

Faktor utama dari kegagalan macam ini ya karena dia tidak mau memulai. Lah, gimana bisa menyelesaikan tulisan kalau memulainya saja belum. Beda hal kalau mentok, itu urusan yang berbeda.

Sebagaimana banyak arahan fasilitator menulis, untuk belajar menulis, ya kita harus memulai tulisan itu sendiri. Sampaikan saja gagasannya, tulis saja dulu. Jangan berhenti dengan mudah karena merasa tulisannya jelek. Itu urusan nanti kalau tulisannya sudah seselai, barulah evaluasi tulisan. Kalau sudah tahu dimana kurangnya, barulah kita bisa memperbaiki kualitas naskah. Kalau mulai saja belum, apa yang mau dinilai.

Baca Juga:  Seandainya Pajak Buku Dihilangkan, Apakah Bermanfaat?

Kekurangan Bahan

Biasanya, ketika seseorang mengalami hal macam ini dia bakal berhenti dengan dalih sudah mentok. Ya, mentok dan bingung mau menulis apalagi. Hal ini terjadi ya karena sebelum membuat tulisan tidak memiliki banyak bahan dan ide. Mending kalau kalian bikin novel yang lumayan panjang, memperlukan banyak sumber dan buku bacaan. Lah, kalau cuma buat artikel 500 kata saja sudah mentok, artinya kalian memang tidak mempersiapkan apa yang ingin ditulis.

Hanya ada satu hal untuk mengatasi persoalan ini: banyak membaca. Carilah banyak referensi, baik terkait gaya tulisan atau bahan untuk ditulis. Kalau ini sudah dilakukan tapi masih mentok juga, coba perbanyak main dan berinteraksi dengan manusia lain. Ingat, referensi itu datang bukan cuma dari buku, tetapi juga dengan kehidupan bermasyarakat.

Malas

Kalau soal ini, agak susah sebenarnya. Jika di poin pertama orang tidak memulai menulis karena memang bingung, di titik ini persoalannya berbeda. Sebenarnya dia sudah mencapai tahap biasa menulis, nggak miskin-miskin referensi amat juga. Dia sudah melewati dua persoalan pertama, artinya sebenarnya dia sudah bisa membuat tulisan.

Hanya saja, dia kurang motivasi untuk menyelesaikan naskahnya. Bisa aja sih orang begini bilang dia moody, tapi itu kan cuma alasan kalau dia malas. Agak susah memecahkan persoalan ini memang, mengingat ini adalah persoalan personal, kepribadian.

Untuk mengatasinya, mula-mula harus bisa menemukan kesenangan dalam menulis terlebih dulu. Kalau sudah senang dan hobi, pasti bakal menyelesaikan dan terus membuat karya-karya baru. Atau, kalau mau lebih ekstrem, jadikan menulis itu sebagai satu-satunya jalan pemasukanmu. Yang artinya, kalau kamu nggak nulis kamu nggak bisa makan. Pikirkanlah nasib perutmu, niscaya kamu bakal terus menulis.

Untuk itu bagi kalian yang pernah mengalami kegagalan macam ini, jangan pernah untuk menyerah, mulailah belajar untuk mensiasatinya. Atasi rasa malas dengan kemauan yang gigih untuk meraih sisi manfaat dan kesuksesan. Tanamkan dalam diri bahwa kegagalan merupakan jalan yang akan membukakan satu persatu pintu kesuksesan. Karena kunci sukses berasal dari kemauan, usaha dan doa.

Baca Juga: Kenangan-Kenangan Yang Mengalir Di Dalam Waktu

Komentar

Bukan siapa-siapa, bukan apa-apa

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *