Seberapa buruknya PKI Di Negara ini?

Bulan September, bisa dibilang sebagai bulan paling bersejarah dalam cerita Indonesia modern. Pada bulan ini, terjadi satu peristiwa yang menjadi penanda lahirnya sebuah rezim politik paling berdarah dan paling kuat dalam sejarah Indonesia modern, rezim Orde Baru.

Asal muasal tentang sejarah kelam tersebut, bukan berarti untuk tutup mata dan bungkam tidak berbicara. Namun, saya sedikit tertarik untuk menggali beberapa informasi sedalam mungkin dengan membrowsing berita maupun artikel di internet atau sesekali lewat cara berdiskusi dengan para aktivis kampus. Nah, kebetulan juga di waktu yang pas, ketika ada obrolan tentang rezim orde baru dan PKI, saya dipinta untuk baca sebuah buku yang berjudul Dalih Pembunuhan Massal.

Buku itu saya baca saat zaman kuliah, kurang lebih 2 tahun yang lalu. Maklum, di kala itu gairah dan semangat saya untuk membaca sangguh sangat besar. Ditambah faktor dorongan mempunyai salah satu teman yang memiliki banyak sekali buku, bahkan ia sampai-sampai tidur di semua sisi nya yang ditemani oleh tumpukan buku-buku. Romantis ya? Sekelas pecinta buku nampaknya kalah tuh.

Dalam buku ini kita bias melihat dua perspektif yang berbeda. Singkatnya, bias bahwa semuanya terjadi bukan semata-mata mutlak kesalahan dari PKI. Contohnya, siapa yang tidak tahu dengan peristiwa 30 september 1965 atau sering disebut G-30-S/PKI. Kenapa disebut demikian, karena Negara mengganggap bahwa dalang pembunuhan jendral adalah PKI.

Akan tetapi, kebenaran akan peristiwa terburuk yang pernah terjadi di Indonesia ini terlihat masih abu-abu yang tidak pernah jelas warnanya. Sekalipun telah banyak yang memberikan kesaksian atas beberapa peristiwa berdarah. Dan apa nyatanya? hingga kini masih menjadi misteri di tengah-tengah Negara kita.

Mula-mula dalam benak saya berpikir bahwa PKI itu sangat jahat sekali, setelah saya membaca buku ini agaknya tidak seperti yang saya bayangkan di awal. Banyak kebaikan yang ditanamkan dalam partai berlambang palu dan arit ini yang sebenarnya bias kita contoh bersama akan sisi sosial dan kerakyatan.

Buku ini hadir bukan sebagai pembenaran, melainkan sebagai petunjuk. Mengapa sebagai petunjuk? Pertama, sejarawan yang tercatat di buku ini menulis menggunakan bukti langka. Kedua, pada bab terakhir penulis tidak memberikan pernyataan bahwa siapa yang benar dan siapa yang salah. John Roosa sebagai penulis memberikan kebebasan bagi pembaca untuk memberikan kesimpulannya sendiri. Menarik bukan?

Buku ini juga hadir sebagai bentuk kritik atas kebohongan yang dibenarkan bertahun-tahun lamanya terkait G-30-S. Seperti tujuh jenderal yang dibunuh secara sadis (disilet-silet kemaluannya oleh PKI lalu dimutilasi), aktivis PKI mulai dari kader tertinggi hingga petani kecil di desa adalah pembunuh sadis, dan lain-lain. Kebohongan tersebut mengakibatkan terjadinya diskriminasi, penindasan besar-besaran termasuk pembunuhan massal kepada aktivis dan keluarga yang (dianggap) PKI.

G-30-S dapat terjadi karena ketidakcakapan Sjam sebagai organisator, bisa juga karena rencana gerakan yang tidak berjalan dengan lancar, seperti terbunuhnya tiga jenderal dan lolosnya Yani (target penting), ketidaksamaan informasi mengenai aksi dan tujuan gerakan ini khususnya oleh pelaku (gabungan wakil PKI dan wakil angkatan bersenjata pro Soekarno), hingga peran Soeharto dan beberapa dewan jenderal yang sudah mengetahui bahkan ikut merencankan gerakan gagal ini sehingga dapat dipakai sebagai jalan untuk menggulingkan kepemerintahan dan mengambil kekuasaan secara penuh.

Salut sekali saya dengan bapak Soeharto ini sebagai sosok yang oportunis, bisa mengambil kesempatan dalam kesempitan dalam peristiwa tersebut. Memang, PKI melakukan blundernya sendiri, tapi peristiwa ini tidak bisa menjadi kesalahan mutlak sehingga diskriminasi itu datang. Rezim Soeharto menangkap lebih dari satu juta orang atas nama penumpasan G30S. Jelas penangkapan semasif itu sebenarnya tidak perlu sebagai reaksi terhadap peristiwa ini. G30S merupakan dalih saja untuk kepentingan yang lebih besar. Dan harapan besarnya itu ialah untuk mendapatkan kekuasaan. Ya, itulah kekuasaan, sejatinya tidak akan pernah luntur selagi haus untuk terus memimpin.

Pertanyaan saya, kenapa Negara tidak menangani peristiwa ini dengan gamblang dan benar seakan Negara tutup mata atas jasad-jasad yang terbunuh. Apa Negara memang mengganggap peristiwa ini sudah biar berlalu saja? Rasanya tidak ingin untuk tangan kembali kotor dan lebih baik untuk cuci tangan saja. Itu lebih mudah, higienis dan bersih. Lantas jika terus seperti ini, mau sampai kapan PKI di cap sebagai hantu di negara Indonesia.

Terakhir terimakasih buat John Roosa yang telah menulis buku ini dengan penjelasan alternatif tentang G-30-S. Pendekatan cerita dalam buku (seperti detektif) dengan menggunakan bukti-bukti langka dan teliti menjadikan buku ini nampak berbeda. Buat kalian yang belum baca, silakan mampir dan pinjam buku nya di Rumah Baca Tangerang, coba temukan pandangan sendiri atas peristiwa kelam tersebut.

 

Kategori        : Non Fiksi

ISBN             : 9786027324473

Halaman       : 423 halaman

Penerbit        : Kendi

Penulis          : John Roosa

 

Komentar

Banyak buku, sedikit nyender, tapi tidak oleng.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *