GELIAT LITERASI KITA

Di beberapa kota besar Indonesia, kita tau kerap mengadakan agenda-agenda yang berbau literasi, seperti misal di Jogja dengan Kampung Buku Jogja, atau event festival literasi yang sudah menjadi agenda rutin tahunan. Itu semua demi menjaring masyarakat agar dapat bisa berprilaku konsumtif, setidaknya, buku dapat digunakan sebagai alat untuk membuka pandangan lebih luas terhadap literasi.

Begitupun pada kota Tangerang Selatan, yang posisinya berada di pinggiran ibukota, tak kalah turut ikut berperan secara masif dalam hal literasi. Pada perhelatan Festival Literasi Tangerang Selatan yang kedua tahun kemarin, terdapat satu babak baru di penghujung acara. Betul. Sebuah babak baru itu adalah Pidato Kebudayaan yang lazim kita jumpai di Dewan Kesenian Jakarta. Sebetulnya sedikit berlebihan disebut pidato kebudayaan, tapi barangkali untuk sebuah usaha desentralisasi, hal demikian mesti jamak diperkenalkan di ruang publik yang tak melulu berpusat di Jakarta.

Kebetulan tokoh yang mengisi Pidato Kebudayaan itu adalah sosok Nirwan Ahmad Arsuka. Seorang tokoh yang sebelumnya sempat mengisi pidato kebudayaan “Percakapan Dengan Semesta” di Dewan Kesenian Jakarta. Sementara pada momen yang sama di festival Literasi Tangsel ia membawa tema tentang “Milenial: Nalar Kritis, Kebudayaan dan Sains”. Dalam bahasan pidatonya, Nirwan menyampaikan bahwa literasi bukanlah menyoal geliat baca dan tulis belaka.

Padahal jauh daripada itu, literasi sejatinya merupakan bentuk pembudidayaan nalar kritis manusia. Sementara budaya baca dan tulis adalah komponen atau “Part of” yang dimiliki oleh budaya literasi itu sendiri. Tidak mengenal batasan apa yang dibahas di dalamnya; entah itu angka atau bahasa, sastra atau teknologi dan juga sains dan budaya.

Literasi mencakup hal itu semua. Namun sayangnya seperti yang sudah jamak kita ketahui, budaya baca dan tulis kita memang masih jauh panggang dari api. Pada akhirnya geliat komunitas literasi kehilangan arah dan pongah. Kini gerakan literasi mesti menyentuh dorongan budaya baca dan tulis lebih dulu sebelum beralih pada tingkat nalar kritis. Tapi siapa sangka pekerjaan ini akan dilakukan begitu mudah. Tentu sama sekali tidak.

Ditambah lagi dengan mengacu pada Buku Ross Tapsel, Kuasa Media di Indonesia, minat literasi masyarakat kita masih timpang sebelah pada lisan ketokohan bukan tulisan. Artinya, banyak diantara  kita masih begitu dominan percaya dari siapa yang bicara bukan apa yang terdapat dalam tulisan. Kerap kali tulisan dibaca hanya sebatas untuk mencari legitimasi atas apa yang kita percaya.

Dan di tengah penitian untuk mulai percaya pada tulisan, arus berita hoax kian tak terbendung. Ini kian menjadi sebuah dilema untuk dorongan membaca dan membentuk kepercayaan. Apalagi di era media baru seperti sosial media yang serba cepat. Pada akhirnya tak jadi hal aneh bila era post truth kini mengambil alih tatanan dunia masa kini dan menjadi kata terpopuler selama tahun 2018. Lantas kita bisa apa?

Belum lagi di awal tahun yang baru ini kita juga dihadapkan dengan perkara yang begitu klise dan merusak akal sehat; pemberantasan buku! Kalau saja, kalau lho yaa, mereka mau sedikit berfikir dan memiliki kewarasan nalar, sudah barang tentu sadar diri betapa hantu kekejaman masa lalu itu hanyalah sebuah imajinasi yang dibuat-buat oleh atasan mereka sendiri. Tapi, ya, mau bagaimana lagi pengandaian hanya tinggal pengandaian, anak-anak sekarang justru yang banyak menanggung beban.

Mengapa pemberantasan buku terjadi, barangkali benar dan menjadi contoh paling konkrit dari apa yang dikatakan Nirwan Arsuka dan Ross Tapsel sebelumnya. Mereka yang berperan sebagai aktor pembarantasan buku itu memang sama sekali tak memiliki daya kritis dan sudah cukup bebal menelan kebenaran sebatas dari lisan panglima tertingginya atau sang penguasa pucuk pimpinan tentara dan negara.

Mereka sudah cukup merasa paling benar sebab sudah mengambil peran yang begitu besar dengan memberikan pengamanan kepada negara. Sementara akhirnya mereka lupa pada tujuan negara yang lain, bahwa negara juga mesti merawat peran, sebagaimana yang tertera jelas dalam undang-undang, negara hadir juga untuk mencerdaskan kehidupan bangsa.

Bila bagi mereka memang kebenaran hanya ada pada lisan, untuk apa kita mengenal budaya tulis di sekolah, untuk apa kita mengenal budaya baca di madrasah, bukankah ayat pertama dalam kitab agama Islam pun berbunyi; Iqra, Bacalah!

Kemudian, bila dianalisa lebih lanjut sebagian masyarakat cenderung sebatas tau sumber tulisan itu dari siapa tanpa ingin membedahnya secara dalam. Disini pula kita harus berpandangan bahwa ada sebab, asal muasal kata-kata tersebut dapat muncul sehingga akhirnya dapat bermuara di pikiran. Dari proses itulah literasi pun dapat terbentuk.

Untuk itu janganlah kita untuk cepat menarik asumsi bahwa literasi hanya sebatas mengenai baca dan tulis, namun geser sedikit lebih jelas untuk kita dapat memaknai literasi lewat pembudidayaan nalar.

 

Komentar

Sosial Media Expert

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *