Kesalahan Dalam HAM dan Dampak Pada Literasi Digital

Media sosial menjadi suatu hal yang amat penting di era sekarang. Perkembangan teknologi membuat semua orang bisa mengakses informasi dengan cepat. Ada dua sisi yang berbeda pada titik ini. Bisa memperoleh hal positif dan negatif. Dua hal yang, nantinya berdampak besar.

Hal baiknya tentu saja soal banjir informasi. Kabar-kabar real time bisa kita ketahui beberapa menit setelah kejadian apapun, mudah, praktis. Tapi, apakah banjirnya informasi bisa membuat kita lebih menganalisa berita apapun? Ini yang kemudian jadi polemik.

Di sisi lain, banjirnya informasi yang mampu kita telan tidak selamanya dikunyah terlebih dahulu. Ini sekiranya yang membuat kita mudah meng-iya-kan berita apapun, tak peduli benar atau salah, tidak perlu disaring dan dipikir terlebih dahulu, sekali kita berasumsi bahwa itu benar, kita share.

Akibatnya jika kita terus melakukan hal seperti itu tanpa adanya filterasi yang ada malah akan menimbulkan rasa bingung. Ditambah lagi  dengan adanya penyebaran konten hoax yang tumbuh subur, ujaran kebencian, hingga tindak Persekusi yang tak bisa terbantahkan.

Contoh kecilnya, kita tentu masih hafal kasus Coki Pardede dan Tretan Muslim, dua punggawa Majelis Lucu Indonesia tersebut mendapat tindak Persekusi, setelah video yang dianggap katanya menistakan agama itu dilihat dan direspon banyak orang. Mereka bahkan menerima ancaman pembunuhan.

Bagi saya ini sudah termasuk menyalahi HAM. Membuat orang seakan takut lewat tindak ancaman-ancaman yang justru didukung banyak orang itu, orang yang diancam jadinya seakan tidak punya rasa aman dan nyaman.

Padahal kita bisa maknai HAM kembali dengan yang dikatakan oleh Miriam Budiarjo, wanita yang telah berjasa memperjuangkan HAM di Indonesia, sekaligus mantan Komnas HAM ini pernah berkata;

“HAM adalah Hak yang bersifat universal karena tidak memandang adanya perbedaan pada jenis kelamin, budaya, ras, suku, agama, dan lain sebagainya. Hak tersebut dimiliki oleh manusia sejak mereka dilahirkan ke dunia ini.Dan tidak ada siapapun yang bisa menggugat hak tersebut.”

Hal kedua, Hate Speech atau ujaran kebencian. Seringkali kita melihat banyak video yang tersebar, isi video tersebut luar biasa tajam, berbau kebencian yang tertuju pada keyakinan tertentu. Seperti pada kasus perpolitikan saat ini dimana dua kudu capres saling serang di berbagai media.

Adapun dalam konteks ujaran kebencian yang menyeret soal agama. Tanpa mengindahkan hanya mengiyahkan semata. Dengan berdasar bahwa persepsi agama yang dianutnya adalah agama yang paling benar. Ini bisa menjadi salah satu pelanggaran hak beragama seseorang. Kadang, berujung intimidasi.

Tidak hanya itu, literasi digital kita yang masih lemah menambah perkara lebih runyam. Membuat banyaknya konten Hoax dengan mudah dikonsumsi. Sebagai pengguna medsos, tentunya berita macam ini nampak telah membodohi. Kita pun dengan bodohnya menyebarluaskan secara bangga. Tujuannya itu paling tidak, minimal orang disekeliling dia tau dan sadar. Justru, saya pikir dialah yang seharusnya sadar akan kelakuan bodoh yang telah dilakukan.

Lalu, siapa yang perlu disalahkan? Penyebar? Atau kita sebagai penerima informasi? Bukan. Jelas bukan. Yang salah adalah negara, negara adalah pemangku hak bagi warganya. Kita sebagai warga negara perlu mendapat hak perlindungan aman dan nyaman, jauh dari segala bentuk ujaran kebencian yang membuat kita mengintimidasi kepercayaan orang, dan tentu saja, kita punya hak untuk mendapatkan berita secara benar. Bukan dibenar-benarkan. Yang sepatutnya digaris bawahi adalah HAM yang selalu benar yang harus perlu terus ditegakkan.

Kita semua kadang berlaku bagai sumbu pendek. Iya, sumbu pendek  ibaratkan dengan sikap yang mudah terbakar akan segala isu apapun. Bersikap seolah tak perlu mempertimbangkan kebenaran berita, menyerap segala informasi serta tanpa memikirkan dampak setelah konten palsu atau kebencian itu kita sebar.

Selamat Hari HAM, teman-teman! Semoga kita menjadi insan yang terus mengedepankan asas-asas keadilan dan mendapat jaminan hak perlindungan.

Mari juga menggalakkan literasi digital dengan lebih baik dan benar!

Komentar

Nggak bisa tidur kalau belum diucapin selamat malam

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *