Belajar Meneladani Kisah Dari Sapi Pustaka Pak Sugeng

“Terpujilah mereka yang gigih sebarkan bahan bacaan, kepada mereka yang haus ilmu pengetahuan. Merekalah yang menyodorkan jendela dunia. Agar anak-anak dapat berpikir seluas cakrawala” – Najwa Shihab

Inisiasi untuk sebarkan bahan bacaan dapat dibilang bukanlah wujud paksaaan atau keinginan melepas kejenuhan, melainkan dorongan dari hati maupun rasa kesukaan.

Seperti hal nya Sugeng Hariono, seorang pegiat literasi yang punya hal unik dalam menyebarkan minat membaca masyarakatnya. Bertempat tinggal di Desa Wayharu Kecamatan Bengkunat Belimbing Kabupaten Pesisir Barat, Lampung. Hal yang dilakukan Sugeng tergolong unik, menggunakan gerobak dan sapi. Jelas sebuah gerakan yang diiringi kreativitas dan keunikan, ya?

Ada beberapa alasan kenapa Sugeng Hariono melakukan gerakan ini. Sebuah Perkampungan yang berjarak 250 km dari Pusat Kota Peisir Barat ini mengalami kekurangan dalam ketersediaan sarana pendidikan, salah satunya buku bacaan, yang masih jauh dari harapan. Bahkan, sejumlah sekolah di daerah ini tak dilengkapi dengan perpustakaan. Maka dari itu ketika ada gerakkan semangat membaca,  anak-anak begitu antusias saat Gerobak Sapi Pustaka Pak Sugeng ini beroperasi.

Seperti dilansir oleh SonaIndonesia, Salah satu warga yang bernama Margono, punya harapan agar Sapi Pustaka lebih sering datang ke kampungnya supaya anak-anak di desa nya  bisa lebih sering membaca. Lebih lagi, Margono bilang jika semangat anak-anak desa itu meningkat dengan adanya gerakan literasi seperti ini.

Sebelumnya, kita juga tahu ada beberapa hal yang dilakukan oleh pegiat literasi dari berbagai daerah, mulai dari becak, sepeda motor,  bemo hingga kapal yang tujuannya sangat sekali mulia. Termasuk Sapi Pustaka Bergerak, yang saya sebutkan tadi bukan gerakan yang disediakan oleh Pemerintah, melainkan orang-orang yang memang tergerak menanggapi isu literasi dan punya semangat untuk meningkatkan minat baca anak Indonesia. Keunikan gerakan seperti ini seakan menambah ketertarikan anak-anak untuk sekadar mampir dan membaca buku.

Gerobak Sapi Pustaka Pak Sugeng ini beroperasi sepekan sekali, ini disebabkan karena keterbatasan transportasi. Kesulitan akses juga yang menyebabkan pasokan buku ke desa ini sangat sulit disalurkan.

Selain akses, kesulitan yang Pak Sugeng rasakan juga soal keterbatasan koleksi bukunya. Anak tentu bingung jika semua buku telah dibaca. Apalagi, buku-buku yang baru juga akan berdampak sangat positif karena membantu anak mengenali dunia luar. Jadi, sudah sepantasnya kita semua juga turut menyumbangkan buku pada gerakan literasi yang memiliki masalah soal keterbatasan buku. Apalagi, Baca Tangerang juga siap menampung dan menyalurkan. Baik, lanjut~

Apa yang dilakukan Pak Sugeng, tentu jadi sesuatu dengan terobosan yang bagus. Terlebih, kepeduliannya pada dunia literasi membuat kita belajar tentang semangat dan perjuangannya. Jika dengan Sapi yang ditambah gerobak saja bisa menyalurkan hal positif, kenapa kita yang punya akses lebih baik tak bisa melakukan hal serupa?

Apabila kita berkaca dari daerah yang ada di desa tempat Pak Sugeng menyediakan akses bacaan dengan Tangerang, tentu lebih maju Tangerang. Apalagi jika berbicara tentang mudahnya kita mendapatkan akses buku. Atau, karena kemudahan akses itu yang membuat kita malas dalam membaca, ya? Jika anak-anak desa Wayharu antusias dalam membaca meski buku-buku disana masih sedikit ketersediaannya, masa kita yang lebih mudah mendapatkan buku ini masih saja enggan menyempatkan membaca, sih.

Komentar

Nggak bisa tidur kalau belum diucapin selamat malam

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *