Bercerita Pengalaman Dari Yasmin Sebagai Duta Literasi Anak Berkebutuhan Khusus

Sebagai warga negara yang mengedepankan norma-norma kesatuan, patutlah kita paham bahwa negara ini berlandaskan Pancasila, sebagai simbol dasar negara Indonesia. Sedari kecil, sejak duduk di bangku sekolah dasar tentu kita pun sudah dikenalkan dengan yang namanya Pancasila. Butir-butir yang tertera dalam Pancasila tak jarang sering didengar ketika pada saat pelaksanaan upacara bendera ataupun disaat-saat sedang belajar di kelas.

Salah satunya termuat butir Kemanusiaan yang adil dan beradab, Singkatnya, poin tersebut mengandung makna yang berkaitan dengan hak asasi manusia. Tidak memandang muatan rentang usia yang dapat diberi jaminan atas hak asasi manusia. Selagi punya keterangan sebagai warga negara Indonesia, maka wajib mendapat kebebasan dan perlindungan. Terlebih yang rentan kini terjadi ialah pada anak-anak.

Hak anak adalah bagian dari hak asasi manusia juga yang wajib dijamin, dilindungi, dan dipenuhi oleh orang tua, keluarga, masyarakat, pemerintah, dan negara.

Namun tidak dapat dipungkiri bahwa kita sebagai masyarakat sering memandang sebelah mata anak-anak yang berkebutuhan khusus. Karena pada hal itu, terkadang banyak sekali terjadi kasus pembullyan secara langsung maupun tidak langsung terhadap mereka.

Anak berkebutuhan khusus (Heward) adalah anak dengan karakteristik khusus yang berbeda dengan anak pada umumnya. Diidentikan pada ketidakmampuan  yang mereka miliki, seperti kelainan fisik, emosional, mental, intelektual, dan sosial. Atau biasa disebut dengan anak luar biasa.

Padahal, jika kita mau merubah mindset, anak berkebutuhan khusus tersebut tidak selalu dikategorikan sebagai anak pembuat onar, anak yang menyusahkan, anak yang menjijikan, atau anak yang perlu belas kasihan.

Karena pada kenyataannya anak berkebutuhan khusus pun punya kelebihan. Mereka punya bakat, punya prestasi, punya semangat juang yang tinggi dengan segala keterbatasan yang dimiliki.

Salah satunya adalah gadis yang berkebutuhan khusus yang bernama, Yasmin Azzahra Rahman. Gadis ini menderita Cerebralpalsy, yaitu gangguan/hambatan karena kerusakan otak (brain injury) sehingga mempengaruhi pengendalian fungsi motorik yang disebabkan oleh cedera atau perkembangan abnormal di otak dan umumnya terjadi sebelum kelahiran.

Gangguan ini sudah ia alami semenjak kecil yang membuat ia gagap dalam berbicara. Karena fungsi motorik yang rusak membuatnya harus duduk dikursi roda.

Namun tak disangka, di usianya yang kini menginjak dewasa, ternyata berhasil membuat sebuah karya yang menganggumkan dan jarang sekali dari kebanyakan orang dapat lakukan.  Yasmin menghasilkan sebuah karya yang berisi tentang diary nya.

Dengan keterbatasan yang Yasmin miliki, ia mampu membuat Buku pertama dan buku kedua yang berjudul, My Story in Holland yang pernah diterbitkan oleh Mizan. Kemudian, dilanjut dengan buku ketiganya yang berjudul From Holland With Love yang diterbitkan Gramedia sekitar tahun 2015.

Semua karya nya bercerita tentang kisah perjalanannya menjadi anak berkebutuhan khusus ketika di Belanda dan perjuangannya untuk sekolah selama di Indonesia. Hal ini membuat Yasmin amat sangat disoroti oleh beberapa kalangan. Dan pada akhirnya, Yasmin diangkat oleh pemerintah Indonesia sebagai Duta Literasi Anak Berkebutuhan Khusus.

Kisahnya berawal pada tahun 2012, Ketika yasmin harus pindah ke negeri kincir angin untuk mengikuti ayahnya sekolah disana, dan harus menunggu karena ada proses yang harus dilalui.

Hal itu membuat Yasmin merasa jenuh dan bosan karena proses pengajuan sekolah nya tak kunjung usai, selama proses itu berlangsung Yasmin selalu berkomunikasi dengan eyang nya yang berada di indonesia melalui jejaring sosial. Pada saat itu juga Yasmin diberi saran oleh sang kakek untuk menulis.

Yasmin ragu dengan saran kakeknya, “Apakah aku bisa menulis?” pertanyaan itu yang pertama kali terlintas dibenaknya. Tapi, karena kebosanan yang dirasakannya selama itu, akhirnya ia paksa untuk coba menuliskan catatan-catatan harian yang dijalani di hari demi hari nya.

Selang beberapa waktu, ternyata catatan nya berhasil diterbitkan. Itu menjadikan pecutan semangat Yasmin untuk semakin termotivasi. Saat pulang ke Indonesia ia kembali melanjutkan tulisan karya ketiganya yang berjudul From Holland with love. Berkisah tentang perjuangan sosok melati yang diterbitkan tahun 2015.

Dengan menulis, ia bisa pergi kemana saja dan menyerap tokoh-tokoh yang ada didalam nya. Inspirasinya dalam menulis juga didapatkan dari beberapa penulis terkenal, salah satunya Asma Nadia yang dikenal sebagai sosok penulis handal dan punya peranan sebagai pengasuh dunia Gol A Gong. Lewat tulisan, Yasmin kini bisa berimajinasi. Merangkai kata demi kata hingga mampu membangun sebuah kalimat yang asyik dan mudah dipahami.

Dengan adanya sosok Yasmin ini membuktikan bahwa keterbatasan bukan menjadi halangan untuk berkarya. Justru dari keterbatasanlah harusnya bisa menjadi pacuan untuk menggali potensi yang kita miliki. Karena sejatinya manusia memiliki kekurangan dan kelebihan,  tidak ada sosok yang sempurna dalam hidup hidup ini.

Semoga kita bisa belajar mensyukuri atas apa yang sudah Tuhan berikan. Gunakan kelebihan kita sebaik mungkin. Teruslah semangat, teruslah belajar, jika gagal cobalah lagi, jika terjatuh bangkit kembali. Dan berbuatlah suatu kebaikan yang sekiranya bisa menjadi manfaat untuk orang lain.

Komentar
Nuryeti

Never stop learning, because life never stop teaching

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *