24 Jam Bersama Gaspar: Menyintas Ingatan-Ingatan Kecil

Saat membaca buku Gaspar, saya sedang dalam keadaan sehabis melakukan kejahatan. Namun, sebagaimana seperti kebanyakan ‘penjahat nanggung’ lainnya, saya tak mau mendaku sebagai seorang penjahat. Saya berusaha membela, dengan cara apapun, sebisa saya. Dan suatu waktu, saya menemukan novel ini tergeletak, sudah lama. Namun waktu itu, saya hanya membaca puluhan halaman saja. Karena memang di awal cerita agak membuat saya merasa bosan dan bingung.

Kemarin, tiba-tiba saya sangat penasaran dengan buku karya Armandio Alif ini. Karena waktu saya sedang senggang, dan juga bosan dengan segala yang tersaji di media sosial, saya memutuskan untuk membaca buku ini. Satu jam, dua jam, hingga saya secara tak sadar dibuat terbius dengan karya novel ini.

Pengantar dari Arthur Harahap—yang kemudian baru saya tahu adalah tokoh fiktif—sangat relevan dengan keadaan yang sedang saya alami sekarang. Dio (penulis novel Gaspar ), membuat saya terkagum- kagum atas penggambaran tentang sebuah kejahatan. Cerita yang digambarkan terasa sangat dekat dengan realitas sekarang. Bahwa kini orang dengan gampangnya menuduh seseorang jahat, sedangkan dirinya tak pernah mau dibilang jahat—besar kemungkinan antara dia tak merasa, atau memang mengelak.

Lewat penuturan yang menyenangkan sekaligus menyebalkan, saya dapati pada bagian wawancara, bagi saya adalah bagian paling menyebalkan. Saya tak bisa membayangkan kalau terlibat obrolan macam itu, yang pasti dan mungkin terjadi, kepala saya bisa meledak kalau jadi sang polisi tersebut.

Dan satu yang saya sadar bahwa untuk menampilkan sebuah hal lucu gak musti ‘lucu’. Seakan menggambarkan bahwa kelucuan-kelucuan sebetulnya sangat dekat dengan kita, amati saja realitas yang ada—terutama soal hubungan sosial manusia dengan manusia. Membawa pada kesimpulan: dunia memang menyebalkan, tapi, manusia yang hidup, itu jauh lebih menyebalkan.

Kalau kalian merupakan pembaca yang sudah muak dengan plot-plot heroik, membahagiakan, atau cerita-cerita roman, novel ini cocok untuk kalian baca. Dialog yang terjadi antar tokoh pun menyenangkan. Sebagai pembaca, saya seperti membaca percakapan kaum urban. Tak bertele-tele, tak juga berlebihan.

Baca Juga:  Hikayat Sepiring Nasi Dari Tempat Penjagalan

Saya, sebagai pembaca merasa bahwa benar-benar dipermainkan oleh teknik penulisan di novel Gaspar ini. Jalan ceritanya dibuat paralel,  pembaca benar-benar dibuat penasaran dengan alur yang tersaji. Walaupun keterangan mengatakan bahwa novel ini merupakan cerita detektif, iya benar. Tapi jangan harap anda akan menemukan cerita detektif macam Detektif Konan, novel ini jauh dari itu.

Saya sebagai pembaca lebih merasa bahwa novel Gaspar adalah semacam upaya menyintas ingatan, namun dibalut dengan cerita kejahatan, atau lebih cocoknya mungkin ‘diselimuti’ cerita kejahatan. Jangan harap kalian bisa menemukan jawaban di tengah-tengah cerita.

Semua kejadian, dan segala pertanyaan-pertanyaan yang timbul ketika membaca novel ini terjawab dengan apik dan mungkin tak akan pernah kalian kira. Perasaan saya setelah membaca lembar terakhir dari novel ini, lega bahwa pertanyaan besar tentang kotak hitam itu terjawab, namun juga masih diselimuti dengan banyak pertanyaan-pertanyaan lain.

Belum lama, sang penulis ternyata mengungkapkan bahwa novel ini justru lebih kearah percintaan. Cerita yang ada pada novel Gaspar, merupakan upaya paling maksimal seorang Dio menulis cerita tentang kisah cinta. Dan saya, sangat menyarankan untuk kalian membaca kalau ingin membaca tentang sebuah kisah cinta yang tak monoton.

Gambaran tentang kejahatan dalam kasus di novel ini benar-benar menampar saya. Bahwa, mengapa begitu susah untuk kita mengakui atas kejahatan yang telah kita perbuat. Apakah hanya karena kita tak siap disebut penjahat? Sebegitu egoiskah kita? Selebihnya, novel Gaspar memang mempunyai alur yang sangat amat menarik.

Baca Juga: DISLEKSIA BUKAN BENCANA BERLITERASI

Komentar

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *