Tuhan Tidak Makan Ikan dan cerita lainnya : Sentuhan humor terbaik

“Aku sering berkhayal, andai saja ada kesempatan memilih cita-cita selain nelayan, aku ingin menjadi agen koran dan buku agar bisa membaca sepuas-puasnya.” —Tuhan Tidak Makan Ikan (hal. 119)

Saya masih berusaha menahan tawa ketika menuliskan artikel ini. Walau tergolong sudah cukup lama saya mengkhatamkan kumpulan cerpen Tuhan Tidak Makan Ikan dan Cerita Lainnya karya Gunawan Tri Atmodjo ini. Ceritanya masih terngiang jelas dalam ingatan.

Di tengah acara televisi yang makin hari hanya mau beradu rating tanpa mempedulikan moralitas. Dan di tengah kejenuhan media sosial  yang makin hari makin tak karuan dengan perdebatan soal pilpres tahun depan. Buku yang tak sengaja saya beli ini memberikan suatu obat jiwa kepada diri saya yang merana ini.

Salah satu alasan saya menyukai buku ini adalah pengantarnya yang dituliskan Triyanto Triwikromo. Ia mengupas secara mendalam buku Tuhan Tidak Makan Ikan ini dari cerpen ke cerpennya. Membaca pengantar ini, harapanku semakin terbawa jauh. Lewat simbol-simbol semiotika, Triyanto mengulas humor-humor yang ada dalam cerita.

Misalnya pada cerita Cara Mati yang Tidak Baik bagi Revolusi di mana Gunawan membalik nama-nama terkenal dunia seperti Neruda menjadi Aduren; Borges menjadi Sergob. Di cerita lain, Triyanto pun membedahnya dengan begitu apik, dalam, akurat, seakan tidak ada cerita humor paling tinggi kadarnya selain cerita-cerita dalam buku ini.

Selain itu, perlu diketahui, buku ini menjadi salah satu dari buku-buku fiksi terbaik versi Majalah Rolling Stone Indonesia tahun 2016. Hal ini menjadi alasan tambahan yang bisa kita miliki guna menumbuhkan kemauan membaca bukunya.

Apa yang diceritakan Gunawan ceritakan pada buku ini tak jauh beda dengan karya-karya terdahulunya. Ia banyak berbicara tentang hal-hal kecil yang ada di keseharian kita. Namun, di kumcer ini Gunawan sepertinya ingin menekankan pada kita untuk melakukan perenungan-perenungan lewat humor yang dia sajikan. Misalkan pada cerpen yang berjudul “Bukan Kawan”, yang menberikan pelajaran tentang kita yang biasanya sering bergelut dengan prasangka-prasangka terhadap sesuatu atau orang lain tanpa mencerna dengan betul-betul terlebih dahulu. Lewat cerpen ini kita akan menyadari bahwa kita sering melakukan hal seperti itu sembari tersenyum-senyum sendiri.

Begitu pula di cerpen yang menjadi judul buku ini “Tuhan Tidak Makan Ikan”, Ia seperti ingin mengungkap banyak hal di sekitar kita yang sebenarnya susah untuk dilogikakan. Cerpen ini bercerita tentang kehidupan nelayan yang dilanda kelesuan hasil tangkapan. Hal itu diduga karena warga kurang bersyukur pada “pemilik lautan”. Karenanya, Pak Kades di desa tersebut meminta warga untuk menangkap ikan guna sebagai persembahan. Anehnya, semua warga yang melaut kala itu tiba-tiba mendapat hasil tangkapan yang masih banyak. Padahal hari-hari sebelumnya tak pernah demikian.

Namun, mereka agak kecewa sebab pada akhirnya tangkapan itu mesti dipersembahkan untuk “pemilik lautan”. Tokoh “aku” dalam cerpen ini paham bahwa sebenarnya Pak Kades memiliki niat busuk dari rencana itu. Sayangnya, tokoh “aku”, yang turut melaut untuk memberi persembahan bersama ayahnya, tidak berani mengatakan yang sebenarnya karena tak ingin membuat ayahnya yang terlanjur bahagia menjadi sedih.

Dalam cerpen ini Gunawan tak terlalu banyak menampilkan humor. Jika dibandingkan dengan cerpen-cerpen yang lain, cerpen ini yang paling sedikit memiliki rasa humor. Bahkan nyaris tidak ada. Hanya pada bagian akhir cerpen ini mulai menunjukkan humornya lewat dialog antara tokoh “Aku” dan sang ayah.

“Siapa sih penguasa laut ini, Yah?”

“Tuhan.”

“Apakah Tuhan itu makan ikan, Yah?”

“Anak bodoh, tentu saja Tuhan tidak makan ikan!”

Lalu, pada bagian mana kita dibuat merenung? Lewat dialog inilah ada suguhan humor yang tersirat. Lewat dialog ini kita akan dibuat tertawa dan sambil merenung atas apa yang sebenarnya ingin Gunawan sampaikan.

Banyak cerpen-cerpen di buku ini yang mengajak kita tertawa dalam kesedihan. Seperti yang disampaikan oleh kurator, “Terkesan main-main, cengengesan, tetapi di ranah demikianlah ia menabalkan permenungan-permenungan yang tak sepi pesan moral.”

Humor yang ditampilkan Gunawan tak selalu ditebar di plot-plot di cerita-ceritanya. Ia terkadang menghadirkannya lewat frasa-frasa atau kalimat-kalimat yang di buat seperti misalnya, ‘kekasih ganas’, ‘rekapitulasi batin’, ‘rumus melakolis yang tidak feminis’, ‘resep klenik serupa iman’, dan lain-lain. Barangkali pembaca akan teringat dengan frasa ‘labil ekonomi’ dan ‘kudeta cinta’ milik Vicky Prasetyo. Tapi tentu saja keduanya tidaklah sama. Pembaca pasti mengerti.

Sederhana, mudah dimengerti dan tentu saja penuh sisipan candaan yang membuat tertawa terpingkal-pingkal. Membaca cerpen-cerpen Gunawan Tri Atmodjo seolah mengajak kita untuk ikut melihat kondisi yang ada di sekitar kita. Melihat dan ikut terlibat cerita tersebut. Bukan sekedar mengintip atau mengamati persoalan dari balik kaca.

Komentar

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *